BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Gizi
merupakan suatu elemen yang terdapat di dalam makanan yang dapat dimanfaatkan
secara langsung oleh tubuh seperti mineral, protein, karbohidrat, lemak dan
vitamin. Gizi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh
tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan. Dimasa tumbuh
kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan makanan dengan kualitas
dan kuantitas yang tepat dan seimbang. Selain balita remaja ,orang dewasa
maupun lansia juga sangat membutuhkan gizi yang seimbang. Karena jumlah gizi
yang seimbang sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang.
konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan
tercapainya tingkat kesehatan, atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh
berada dalam tingkat kesehatan optimum, di mana jaringan jenuh oleh semua zat
gizi, maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas
dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setingi-tingginya. Apabila konsumsi
gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, maka akan
terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan
gizi disebut gizi lebih (overnutrition), dan kekurangan gizi atau gizi kurang
(undernutrition).
B.
Rumusan masalah
1.
Apa
itu masalah gizi
2.
Apa
saja faktor penyebab masalah gizi?
3.
Apa
konsep gizi berlebih?
4.
Apa
konsep gizi kurang?
5.
Apa
saja jenis penyakit yang timbul akibat kekurangan dan kelebihan gizi?
6.
Bagaimana
cara penanggulangan dan pencegahan gizi kurang dan gizi lebih?
C.
Tujuan penulisan
1.
Mengetahui
pengertian konsep masalah gizi pada manusia
2.
Mengetahui
konsep gizi berlebih
3.
Mengetahui
konsep gizi kurang
4.
Mengetahui
jenis penyakit yang timbu akibat kekurangan dan kelebihan gizi
5.
Mengetahui
cara pencegahan dan penganggulangan gizi kurang dan gizi lebih
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian
Masalah gizi pada manusia
Masalah
gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia.Kekurangan
gizi belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi lebih dan obesitas mulai
meningkat khususnya pada kelompok sosial ekonomi menengah ke atas di perkotaan.
Dengan kata lain, saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda. Hal
ini sangat merisaukan karena mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang
sangat diperlukan di masa mendatang (Depkes RI, 2007).Sumber daya manusia yang
sehat dan berkualitas merupakan modal utama atau investasi dalam pembangunan
kesehatan.
Menurut Prof Soekirman Ph.D Guru Besar Ilmu Gizi IPB
Bogor. Masalah
Gizi adalah Gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kelompok
orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidak seimbangan antara asupan
(intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi penyakit
(infeksi).
Ketidak seimbangan atau gangguan
dari masalah gizi bisa karena kekurangan asupan bisa juga karena kelebihan
asupan. Dari berbagai penelitian dan pemantauan pada konsumsi gizi masyarakat,
ketidak seimbangan atau gangguan yang muncul dapat
mengakibatkan :
1. Menurunnya pertahanan tubuh terhadap penyakit (imunitas) yang berdampak pada
tingginya angka penyakit infeksi dan kematian bayi dan balita
2. Gangguan pertumbuhan fisik pada siklus kehidupan manusia sejak janin, bayi baru
lahir,balita yang dapat berdampak sampai dewasa
3. Gangguan perkembangan otak pada janin, bayi dan balita yang berdampak pada kecerdasan
pada usia sekolah
4. Rendahnya produktifitas kerja
5. dan
Gangguan-gangguan gizi dan kesehatan lainnya
2.
Faktor
penyebab terjadinya masalah gizi
Beberapa faktor penyebab terjadinya
masalah gizi di Indonesia yaitu :
a. Faktor
penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah
dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai
kebutuhan, bersih, dan aman, misalnya bayi tidak memperoleh ASI Eksklusif.
b. Faktor
penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan tingginya
kejadian penyakit menular terutama diare, cacingan dan penyakit pernapasan akut
(ISPA). Faktor ini banyak terkait mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya
imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup sehat. Kualitas
lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan
perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air
besar di jamban, tidak merokok, sirkulasi udara dalam rumah dan sebagainya.
c. Faktor
lain yang juga berpengaruh yaitu ketersediaan pangan di keluarga, khususnya
pangan untuk bayi 0—6 bulan (ASI Eksklusif) dan 6—23 bulan (MP-ASI), dan pangan
yang bergizi seimbang khususnya bagi ibu hamil. Semuanya itu terkait pada
kualitas pola asuh anak. Pola asuh, sanitasi lingkungan, akses pangan keluarga,
dan pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan, dan
akses informasi terutama tentang gizi dan kesehatan.
d. Kemiskinan
dan Masalah Gizi
Ada pula yang membedakan faktor-faktor
yang mempengaruhi status gizi terdiri atas :
a. Faktor External
Faktor eksternal yang
mempengaruhi status gizi antara lain:
1. Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan
indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli
yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2. Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses
merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk
mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
3. Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus
dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya
merupakan kegiatan yang menyita waktu.
Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga
4. Budaya
Budaya
adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan
b.
Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status
gizi antara lain :
1.
Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau
pengalaman yang dimiliki orang tua dalam
pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
2. Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan
dan yang lanjut usia, semuanya
memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan
anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode
hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, et,
all, 1986).
3. Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan
menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan
(Suhardjo, et, all, 1986).
3. Konsep
gizi berlebih
Seiring dengan perkembangan
teknologi, termasuk teknologi pertanian, transportasi, dan informasi, terjadi
juga perubahan aktivitas fisi dari pola aktivitas aktif menjadi pola aktivitas
kurang aktif.Hal ini diikuti pula oleh transisi gizi yang ditandai dengan
perubahan pola makan, taraf aktivitas fisik, dan komposisi tubuh. Pola makan
berubah menjadi fastfood atau junkfood.Aktivitas fisik berubah dari aktivitas
fisik aktif menjadi kurang aktif akibat perubahan struktur pekerjaan dan waktu
luang untuk menonton televisi.Dengan pola aktivitas yang semakin rendah
mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk yang mengalami kelebihan gizi berupa
overweight dan obesistas.
Masalah
gizi merupakan masalah yang ada di tiap-tiap negara, baik negara miskin, negara
berkembang dan negara maju. Negara miskin cenderung dengan masalah gizi kurang,
hubungan dengan penyakit infeksi dan negara maju cenderung dengan masalah gizi
lebih.
Saat ini di dalam era
globalisasi dimana terjadi perubahan gaya hidup dan pola makan, Indonesia
menghadapi permasalahan gizi ganda. Di satu pihak masalah gizi kurang yang pada
umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya
kualitas lingkungan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi. Selain itu
masalah gizi lebih yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan
masyarakat tertentu disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi
Gizi
lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan
pengeluaran energi. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan
menimbulkan kenaikan berat badan, berat badan lebih (overweight) dan obesitas.
Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula
yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar
keseimbangan energi yang positif ini.selanjutnya penurunan pengeluaran energi
akan meningkatkan keseimbangan energi yang positif.
a. Faktor
penyebab gizi berlebih
·
Efek toksis yang membahayakan
·
Kelebihan energy
·
Kurang gerak
·
Kemajuan ekonomi
·
Kurang pengetahuan akan gizi seimbang
·
Aktivitas fisik golongan masyarakat
rendah
·
Tekanan hidup/ stress
b. Akibat
Kelebihan Gizi
·
Obesitas/ kegemukan. Energy disimpan
dalam bentuk lemak.
·
Penyakit degenerative: hipertensi,
diabetes, jantung koroner, hepatitis, empedu.
·
Usia harapan hidup semakin menurun.
c.
Penyakit
yang ditimbulkan akibat gizi berlebih
1)
Obesitas
dan overwheigt
Obesitas
dan overweight adalah dua kata yang mempunyai arti yang berbeda dalam segi gizi
klinis, meskipun keduanya selalu disamaratakan dan disejajarkan penggunaanya. Overweight
lebih mengacu pada kelebihan berat badan dibandingkan dengan standar
normal.Bila berat badan 110-120% berat badan standar.Berat badan overweight
bisa berasal dari otot, tulang, organ- organ vital, dan sebagainya.
Contoh
dari kasus Overweight adalah para binaragawan, mereka mungkin berat badanya
lebih daripada orang normal yang sama umurnya dengan mereka namun meski mereka
lebih berat, tidak bisa dikatakan sebagai obese karena kelebihan berat badanya
berasal dari otot.
Obesitas
adalah kelebihan berat badan yang berasal dari lemak.Bila berat badan lebih
dari 120% berat badan standar.Seorang bayi atau anak yang kegemukan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk tetap kegemukan pada masa pubertas dan
dewasa.Penimbunan lemak yang berlebihan pada kegemukan disebabkan oleh konsumsi
energi yang melebihi kebutuhan termasuk kebutuhan energi untuk pertumbuhan. Penyakit kegemukan (obesitas) disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, dimana konsumsi
terlalu berlebihan dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi.
Kelebihan energi di dalam tubuh disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Pada
keadaan normal, jaringan lemak ditimbun di beberapa tempat tertentu,
diantaranya di dalam jaringan subkutan dan di dalam jaringan tirai usus
(omentum). Jaringan lemak subkutan di daerah dinding perut bagian depan mudah
terlihat menebal pada seseorang yang menderita obesitas.
Asupan makanan
yang cukup dan aktivitas yang cukup diperlukan untuk membakar kelebihan energi
yang ada. Jika hal ini tidak terjadi, maka kelebihan energi akan diubah menjadi
lemak dan disimpan di dalam sel-sel lemak.
Obesitas
adalah penyakit gizi berupa akumulasi jaringan lemak secara berlebihan
diseluruh tubuh. Penyebab obesitas oleh perilaku makan yang berhubungan dengan
faktor keluargadan lingkungan, aktivitas fisik yang rendah , gangguan
psikologis, laju pertumbuhan yang sangat cepat, genetic atau faktor keturunan
juga gangguan hormone.
Pembagian
macam – macam obesitas :
- Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
- Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
- Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).
Penyebab
gangguan keseimbangan energi antara lain adalah faktor keturunan, konsumsi energi,
dan pengeluaran energi.
a. Faktor
Keturunan
Angka-angka yang
menunjukkan bahwa faktor keturunan berpengaruh terhadap gangguan keseimbangan
energi adalah sebagai berikut:
·
Bila bapak dan ibu tidak gemuk,
kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 9%.
·
Bila bapak atau ibu gemuk, kemungkinan
anak menjadi gemuk adalah 41-50%.
·
Bila bapak dan ibu gemuk, kemungkinan
anak menjadi gemuk adalah 66-80% (Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumi,2003)
b. Konsumsi
Energi
Konsumsi
energi yang berlebihan, terutama yang berasal dari karbohidrat, bisa
menyebabkan kegemukan.Kebutuhan energi yang bersifat individual perlu mendapat
perhatian.Frekuensi dan porsi makanan ternyata berpengaruh terhadap
keseimbangan energi.Makan sering secara teratur dalam porsi kecil tidak mudah
menyebabkan kegemukan dibandingkan dengan makan dalam jumlah banyak secara
tidak teratur atau melewati waktu makan.
c. Pengeluaran
Energi
Pengeluaran
energi yang menurun berpengaruh terhadap terjadinya kegemukan pada
anak-anak.Obesitas terjadi pada anak-anak yang menderita penyakit yang
menyebabkan aktivitas menurun.
Cara
yang digunakan untuk mengukur obesitas adalah Indeks Massa Tubuh dan Lingkar
Perut. Obesitas yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh dapat dibagi menjadi
obesitas perifer dan obesitas sentral atau abdominal berdasarkan lingkar perut.
Bagi orang Asia, lingkar perut pada laki-laki harus kurang dari 90cm sementara
pada wanita kurang dari 80cm. Jadi, IMT yang melebihi 23 dengan lingkar perut
lebih dari 90cm pada laki-laki dan 80 cm pada wanita dapat digolongkan kedalam
obesitas abdominal. Etiologi obesitas
sesungguhnya dapat dibagi dua, yaitu :
·
Penyebab internal yang bisa berupa permasalahan
metabolisme (hormonal) atau pencernaan (enzimatik).
·
Permasalahan eksternal yang berupa
ketidakseimbangan antara diet dan exercise sebagai akibat dari perubahan gaya
hidup serta modernisasi, termasuk pelbagai problem psikologis dan aktualisasi diri
2) Hipertensi
Hipertensi adalah nama lain dari
tekanan darah tinggi. Tekanan darah itu sendiri adalah kekuatan aliran darah
dari jantung yang mendorong dinding pembuluh darah (arteri). Kekuatan tekanan
darah ini bisa berubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh aktivitas apa yang
sedang dilakukan jantung (misalnya sedang berolahraga atau dalam keadaan
normal/istirahat) dan daya tahan pembuluh darahnya. Hipertensi adalah kondisi
di mana tekanan darah lebih tinggi
dari 140/90 milimeter merkuri (mmHG).
Angka 140 mmHG
merujuk pada bacaan sistolik, ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Sementara itu, angka 90 mmHG mengacu pada bacaan diastolik, ketika jantung
dalam keadaan rileks sembari mengisi ulang bilik-biliknya dengan darah.
Nilai
normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat
aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas
sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran
stabil.Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur
dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga. Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menyebut angkanya saat ini terus meningkat secara global. Peningkatan
orang-orang dewasa di seluruh dunia yang akan mengidap hipertensi diprediksi
melonjak hingga 29 persen pada tahun 2025.
Peningkatan kasus hipertensi juga
terjadi di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) milik Kemenkes RI
tahun 2013 menunjukkan bahwa 25,8 persen penduduk Indonesia mengidap hipertensi.
Laporan Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) menunjukkan angka
pengidapnya meningkat jadi 32,4 persen. Ini artinya ada peningkatan sekitar
tujuh persen dari tahun-tahun sebelumnya. Angka pasti di dunia nyata mungkin
bisa lebih tinggi dari ini karena banyak orang yang tidak menyadari mereka
memiliki tekanan darah tinggi.
a.
Gejala
Hipertensi
Pada
umumnya gejala hipertensi tidak diketahui dengan pasti. Sebagian besar
penderita baru menyadari jika ia telah mengidap penyakt hipertensi setelah
terjadi komplikasi pada organ lain seperti ginjal, mata, otak, dan jantung.
Sakit kepala, mimisan,limbung dan mabuk sering dianggap sebagai ciri-ciri
hipertensi. Namun secara umum gejala hipertensi adalah :
·
Sakit
kepala
·
Lemas
·
Masalah
dalam penglihatan
·
Sesak
napas
·
Aritmia
·
Adanya
darah dalam urine
b. Penyebab Hipertensi
·
Penyakit
ginjal
·
Kehamilan
·
Penyakit
kelenjar tiroid
·
Tumor
kelenjar adrenal
·
Kelainan
bawaan pada pembuluh darah
·
Penyalahgunaan
NAPZA
·
Konsumsi
obat-obatan tertentu, seperti obat penurun panas, pereda rasa sakit, obat batuk
pilek, atau pil KB.
c.Faktor meningkatnya
resiko seseorang menderita hipertensi
·
Usia.
Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang terserang hipertensi semakin besar.
Hipertensi pada pria umumnya terjadi pada usia 45 tahun, sedangkan pada wanita
biasanya terjadi di atas usia 65 tahun.
·
Keturunan. Hipertensi rentan terjadi pada orang dari keluarga yang
memiliki riwayat darah tinggi
·
Obesitas. Meningkatnya berat badan mengakibatkan nutrisi dan oksigen
yang dialirkan ke dalam sel melalui pembuluh darah juga meningkat. Hal ini
mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah dan jantung.
·
Terlalu banyak makan garam atau terlalu sedikit
mengonsumsi makanan yang mengandung kalium. Hal ini dapat mengakibatkan tingginya natrium dalam darah,
sehingga cairan tertahan dan meningkatkan tekanan dalam pembuluh darah.
·
Kurang aktivitas fisik dan olahraga. Keadaan ini dapat mengakibatkan
meningkatnya denyut jantung, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk
memompa darah. Kurang aktivitas dan olahraga juga dapat mengakibatkan
peningkatan berat badan, yang merupakan faktor risiko hipertensi.
·
Merokok. Zat kimia dalam rokok bisa membuat pembuluh darah
menyempit, yang berdampak pada meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah dan
jantung.
3) Diabetes mellitus
Diabetes mellitus,
penyakit gula atau penyakit kencing manis adalah penyakit yang disebabkan
karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Gangguan metabolisme tersebut
disebabkan kurangnya produksi hormone insulin, yang diperlukan dalam proses
pengubahan gula menjadi tenaga serta sintesis lemak. Penyakit ini sudah lama dikenal,
terutama di kalangan keluarga, khususnya keluarga berbadan besar (kegemukan)
bersama dengan gaya hidup “tinggi”. Diabetes Mellitus bisa berawal dengan
kekurangan insulin yang bersifat relatif yang disebabkan oleh adanya resistensi
insulin.
a. Penyebab Penyakit Diabetes Melitus
Pada prinsipnya, penyebab penyakit diabetes melitus adalah terganggunya kemampuan tubuh untuk menggunakan glukosa ke dalam sel. Tubuh normal mampu memecah gula dan karbohidrat yang Anda makan menjadi gula khusus yang disebut glukosa. Glukosa merupakan bahan bakar untuk sel-sel dalam tubuh. Untuk memasukkan glukosa ke dalam sel dibutuhkan insulin. Pada pengidap diabetes, tubuh tidak memiliki insulin (DM Tipe 1) atau insulin yang ada kurang adekuat (DM Tipe 2). Karena sel-sel tidak dapat mengambil glukosa, akibatnya ini akan menumpuk dalam aliran darah. Tingginya kadar glukosa dalam darah dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, jantung, mata, dan sistem saraf. Oleh karena itu, diabetes yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf di kaki.
b. Gejala
penyakit diabetes mellitus
·
Kelaparan dan kelelahan. Ciri yang pertama berkaitan dengan
mekanisme sistem pencernaan. Tubuh mengubah makanan menjadi glukosa yang
digunakan untuk menghasilkan energi. Ketika insulin tidak optimal lagi atau tidak ada, maka tubuh akan merasa
mudah lelah dan cepat lapar.
·
Kencing lebih sering dan menjadi mudah haus. Rata-rata orang biasanya berkemih
antara 4–7 kali dalam 24 jam, tapi orang-orang dengan penyakit ini mungkin
menjadi lebih sering. Mengapa? Biasanya ginjal akan menyerap glukosa diikuti
oleh penyerapan air. Tetapi pada penderita diabetes, kadar gula darah sudah
meningkat sehingga tubuh tidak mungkin menyerap ulang glukosa. Akhirnya, air
yang melewati ginjal menjadi lebih banyak.
·
Mulut kering dan kulit gatal. Karena semakin sering berkemih, terjadi kekurangan air pada
bagian tubuh lainnya. Anda bisa mengalami dehidrasi dan mulut terasa kering.
Kulit kering dapat membuat Anda gatal.
·
Penglihatan kabur. Perubahan tingkat cairan dalam tubuh bisa membuat lensa di
mata membengkak sehingga lensa mata berubah bentuk dan kehilangan kemampuan
untuk fokus.
Pada kondisi tertentu, terdapat gejala diabetes yang
cenderung muncul setelah glukosa telah tinggi untuk waktu yang lama.
§ Infeksi
jamur. Baik pria maupun wanita dengan
diabetes bisa terkena ini. Jamur menyukai glukosa, sehingga orang diabetes
membuat jamur mudah berkembang. Infeksi dapat tumbuh dalam area kulit yang
hangat dan lembab sepeti lipatan kulit yaitu di antara jari tangan dan kaki, di
bawah payudara, di sekitar organ intim
§ Penyembuhan
luka yang lambat.
Seiring waktu, gula darah tinggi dapat memengaruhi aliran darah dan menyebabkan
kerusakan saraf yang membuat tubuh Anda sulit untuk menyembuhkan luka.
§ Nyeri atau
mati rasa di kaki
§ Penurunan
berat badan. Jika
tubuh tidak bisa mendapatkan energi dari Anda, sel akan mulai membakar otot dan
lemak untuk mendapatkan sumber energi lainnya sebagai gantinya. Pasien akan
kehilangan berat badan meskipun tidak berolahraga maupun tidak mengurangi makan.
§ Mual dan
muntah. Ketika tubuh membakar sumber
energi lain selain glukossa, hasil pembakaran itu berupa “keton.” Darah dapat
jatuh dalam kondisi pH asam, kondisi mungkin mengancam jiwa yang disebut ketoasidosis diabetikum. Keton dapat
menyebabkan sakit perut, mual, dan muntah.
4) Hipertiroid
Kelebihan yodium di dalam tubuh dikenal juga sebagai
hipertiroid.Hipertiroid terjadi karena kelenjar tiroid terlalu aktif memroduksi
hormon tiroksin. Biasanya ditandai gejala mudah cemas, lemah, sensitif terhadap
panas, sering berkeringat, hiperaktif, berat badan menurun, nafsu makan
bertambah, jari-jari tangan bergetar, jantung berdebar-debar, bola mata
menonjol serta denyut nadi bertambah cepat dan tidak beraturan.Untuk memenuhi
kecukupan yodium sebaiknya di dalam menu sehari-hari sertakan bahan bahan
pangan yang berasal dari laut. Kebutuhan yodium perhari sekitar 1-2 mikrogram
per kg berat badan.Kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 mikrogram/ hari
untuk anak sampai umur 10 tahun, 150 mikrogram/ hari untuk orang dewasa.Untuk
wanita hamil dan menyusui dianjurkan tambahan masing-masing 25 mikrogram dan 50
mikrogram/ hari.
5) Stroke
Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak
akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Dengan kata lain penyakit
stroke ini merupakan penyakit pembuluh darah otak (serebrovaskuler) yang
ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) hal ini disebabkan
karenakan adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah menuju
otak sehingga pasokan darah dan oksigen ke otak berkurang dan menimbulkan
serangkaian reaksi biokimia yang akan merusakkan atau mematikan sel-sel saraf
otak. Jumlah penderita stroke di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya.
Pada akhir tahun 2012 lalu, sebuah lembaga mencatat
telah terjadi sekitar 500.000 kasus penderita stroke dengan angka 12.500 orang
meninggal akibat penyakit tersebut. Sementara sisanya mengalami cacat, baik
ringan maupun berat.Karena itu pengobatan awal serta pencegahan menjadi perang
penting dalam memerangi stroke.
a.Penyebab stroke
Ada dua faktor yang merupakan penyebab stroke yaitu
resiko medis dan resiko perilaku
·
Faktor risiko medis
Faktor resiko medis yang menyebabkan atau
memperparah stroke antara lain hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi),
kolesterol, arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah), gangguan jantung,
diabetes, riwayat stroke dalam keluarga (faktor keturnan) dan migren (sakit
kepelah sebelah).Menurut data statistik 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan
arteriosklerosis.
·
Faktor risiko perilaku
Faktor resiko perilaku disebakan oleh gaya hidup dan
pola makan yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, menkonsumsi minuman
bersoda dan beralkohol gemar mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food dan
junk food). Faktor resiko perilaku lainnya adalah kurangnya aktifitas gerak /
olah raga dan obesitas.Salah satu pemicunya juga adalah susasana hati yang
tidak nyaman seperti sering marah tanpa alasan yang jelas.
b..Gejala Serangan Stroke
Pada tingkat awal, masyarakat, keluarga dan setiap
orang harus memperoleh informasi yang jelas dan meyakinkan bahwa stroke adalah
serangan otak yang secara sederhana mempunyai lima tanda-tanda utama yang harus
dimengerti dan sangat difahami. Hal ini penting agar semua orang mempunyai
kewaspadaan yang tinggi terhadap bahaya serangan stroke.
c.Tanda seseorang terserang stroke
·
Nyeri pada satu sisi wajah
·
Pandangan kabur
·
Kesulitan untuk menghirup atau menelan
·
Tremor. Tremor akan sering
terjadi saat gejala stroke nampak. Penyebabnya adalah terjadi penyumbatan
suplai darah ke otak.
·
Sulit berjalan
·
Kelumpuhan di wajah
·
sakit kepala
·
Kebingungan
·
Vertigo
4. Konsep
gizi kurang
Apabila
tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energy dan protein, pada tahap awal akan
menyebabkan rasa lapar kemudian dalam jangka waktu tertentu berat badan akan
menurun disertai dengan menurunnya produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan
menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan
konsumsi energi dan protein yang mencukupi, tubuh akan mudah terserang penyakit
infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Menurut Depkes RI
(2006) masalah kurang gizi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan dapat
menjadi penyebab kematian terutama pada kelompok resiko tinggi (bayi dan
balita). Menurut Alan Berg (1986), gizi yang kurang mengakibatkan
terpengaruhnya perkembangan mental, perkembangan jasmani, dan produktifitas
manusia karena semua itu mempengaruhi potensi ekonomi manusia. Masalah gizi
pada hakikatnya adalah masalah kesehatan yang penanggulangannya tidak dapat
dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja.Penyebab
timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan
penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.kekurangan
gizi secara umum baik kurang secara kualitas dan kuatitas menyebabkan gangguan
pada proses-proses tubuh seperti gangguan pertumbuhan, gangguan produksi krja,
gangguan pertahanan tubuh dan gangguan struktur dan fungsi otak.
a.
Faktor-faktor
Penyebab Terjadinya Gizi Kurang
Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya gizi kurang, antara lain :
·
Pola makan atau asupan gizi yang kurang
dan pola hidup masyarakat.
·
Faktor sosial budaya
Yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. Sehingga,
banyak balita yang diberi makan "sekadarnya" atau asal kenyang
padahal miskin gizi.Masalah lainnya juga berupa pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu yang mungkin memiliki nilai gizi tinggi namun, tidak dikonsumsi karena sudah
merupakan tradisi yang turun-temurun sehingga, dapat mempengaruhi terjadinya
gizi kurang.
·
Faktor pendidikan
Kurang adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan masyarakat yang pendidikannya relatif rendah seperti, pengetahuan orang tua tentang pentingnya asupan makanan yang cukup nutrisi.
Kurang adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan masyarakat yang pendidikannya relatif rendah seperti, pengetahuan orang tua tentang pentingnya asupan makanan yang cukup nutrisi.
·
Faktor ekonomi dan kepadatan penduduk
Kemiskinan keluarga dan penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi. Rendahnya pendapatan masyarakat dan laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya. ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun bisa menjadi penyebab terjadinya gizi kurang.
Kemiskinan keluarga dan penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi. Rendahnya pendapatan masyarakat dan laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya. ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun bisa menjadi penyebab terjadinya gizi kurang.
·
Faktor infeksi dan penyakit lain :
·
Sanitasi Lingkungan
· Pola pengasuhan anak, berupa perilaku
ibu atau pengasuh lain dalam hal
memberikan makan, merawat, kebersihan memberi kasih sayang dan sebagainya.
Kesemuanya berhubungan dengan kesehatan ibu (fisik dan mental), status gizi,
pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, adat kebiasaan dan sebagainya dari si ibu
dan pengasuh lainnya.
· Bencana alam, perang, kebijaksanaan
politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat. Banjir, tanah longsor, tsunami,
letusan gunung berapi dan bencana alam lain akan menghambat pemenuhan gizi di
Indonesia. Bencana alam berpotensi menghalang proses distribusi bahan makanan
sehingga bahan pangan yang ada tidak terdistribusi dengan baik.
· Pelayanan kesehatan dan lingkungan
kurang memadai.
b.
Penyakit yang ditimbulkan akibat gizi kurang:
Ø KEP
(Kurang Energi Protein/protein energy malnutrition (PEM)/ protein kalori
malnutrition (PCM )
KEP suatu
penyakit kurang gizi karena tubuh kurang memperoleh makanan berupa sumber zat
tenaga (energy) dan sumber zat pembangun (protein) dalam waktu yang lama.Bila
ditimbang, titik berat badan anak pada KMS terletak dibawah garis merah atau
kurang 60% dari berat anak yang seharusnya.Prevalensi tinggi terjadi pada
balita, ibu hamil da nib u menyusui.KEP berat dibedakan menjadi tiga tipe
yaitu, tipe kwarshiorkor dan tipe marasmus atau tipe marasmikwashiorkor.Gejala
klinis KEP ringan diantaranya pertumbuhan berkurang atau bahkan berhenti; brat
badan berkurang, terhenti bahkan turun;
ukuran lingkar lengan menurun; maturasi tulang terhambat; rasio berat
terhadap tinggi normal atau menurun; tebal lipat kulit normal atau menurun;
aktifitas dan perhatian kurang; kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan.
Adapun penyebab KEP ringan yaitu masukan makanan baik kuantitas dan kualitas
yang rendah, gangguan atau system pencernaan atau penyerapan makanan,
pengetahuan yang kurang tentang gizi.
Ø Kwarshiorkor
Kwarshiorkor
adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul
pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi. Penyakit ini
disebabkan oleh kekurangan protein dalam makanan, gangguan penyerapan protein,
kehilangan protein secara tidak normal, infeksi kronis ataupun karena
pendarahan. Berikut adalah gejala kwarshorkor : Wajah seperti bingung dan mata
cekung, sinar mata sayu ; pertumbuhan terganggu; berat dan tinggi badan lebih
rendah dibandingkan dengan berat badan normal; perubahan mental (sering
menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis ); rambut merah, jarang, mudah
dicabut; jaringan lemak masih ada; perubahan warna kulit (terdapat titik merah
kemudian menghitam, kulit tidak keriput); terkadang terjadi pembengkakan tubuh
(oedema) sehingga menyamarkan penurunan berat badan; jaringan otot mengecil
Ø Marasmus
Marasmus
adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh
terpakai sehingga anak menjadi kurus dan emosional. Sering terjadi pada bayi
yang tidak cukup mendapatkan asi serta tidak dibri makanan penggantinya, atau
terjadi pada bayi yang sering diare. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan
konsumsi zat gizi atau kalori di dalam makanan, kebiasaan makanan yang tidak
layak dan penyakit-penyakit infeksi saluran-saluran pencernaan. Berikut adalah
gejala penderita marasmus : wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus;
mata besar dan dalam, sinar mata sayu; mental cengeng; feses lunak atau diare;
rambut hitam, tidak mudah dicabut; jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak
ada, lemak sub kutan menghilang hingga turgor kulit menghilang. Kulit keriput,
dingin, kering, dan mengendur; perut buncit.
Ø Kwashiorkor-marasmus
Kwashiorkor-marasmik
memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwarshiorkor. Program
pemerintah untuk menanggulangi KEP diprioritaskan pada daerah-daerah miskin
dengan sasaran utama ibu hamil, bayi, balita dan anak sekolah dasar. Program
tersebut mencakup berbagai kegiatan seperti penyuluhan gizi, peningkatan pendapatan
keluarga, penigkatan pelayanan kesehatan, KB- keluarag Berencana.Adapaun
pemantauan tumbbuh kembang anak diupayakan melalui keluarga, dasawisma dan
posyandu.
2)
KVA ( Kurang Vitamin A)
Vitamin
A merupakan nutrient essensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh,
dimana jika asupannya berlebihan bisa menyebabkan keracunan karena tidak larut
dalam air.Keurangan asupan vitamin A bisa menyebabkan diare yang bisa be3rujung
pada kematian dan pneumonia. Prevalensi tertinggi terjadi pada balita. Hal ini
disebabkan oleh intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah,
rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada ibu hamil sampai melahirkan
sehingga mempengaruhi kadar vitamin A yang terkandung dalam ASI. Selain itu
dapat disebabkan oleh MP-ASI yang kurang kandungan vitamin A, gangguan
absorbs vitamin A dan pro vitamin A (penyakit pancreas, diare kronik, KEP ),
gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A.
Ø
Akibat
kekurangan vitamin A :
·
Menurunnya
daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi ( misalnya sakit batuk, diare
dan campak ).
·
Rabun
senja ( anak dapat melihat suatu benda , jika ia tiba-tiba berjalan dari tempat
yang terang ke tempat yang gelap ). Rabun senja dapat berakhir pada kebutaan.
Cara
mencegah dan mengatasi kekurangan vitamin A :
·
Setiap
hari anak diberi makanan yang mengandung vitamin A, seperti hati ayam.
·
Setiap
hari anak dianjurkan makan sayuran hijau dan buah-buahan berwarna.
·
Sebaiknya
sayuran ditumis menggunakan minyak atau dimasak dengan santan, sebab vitamin A
larut dalam minyak santan\Kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak
setiap 6 bulan di Posyandu
·
Kapsul
vitamin A dosis tinggi diberikan pada ibu segera setelah melahirkan.
3)
GAKY ( Gangguan Akibat Kekurangan Yodium )
Gaky tidak
berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi suatu masyarakat melainkan dengam
geografis.Penyakit ini merupakan masalah dunia yang terjadi pada kawasan
pegunugan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium.
Kekurangan yodium saat janin berlanjut dengan gagal dalam pertumbuhan anak usia
2 tahun dpat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. Defisiensi yang
berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan
menyebabkan pembesaran kelenjar gondok.
Berikut spektrum gangguan akibat kekurangan
yodium.
·
Pada
fetus ( janin ): abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi,
kretinisme nervosa ( bisu tuli, defisiensi mental, mata juling ), cacat bawaan,
kretinisme, kerusakan psikomotor.
·
Anak
dan remaja: gondok, gangguan fungsi mental ( IQ rendah ), gangguan
perkembangan.
·
Dewasa: gondok, hipotirod gangguan
fungsi mental.
·
Gangguan
akibat kekurangan yodium ( GAKY ) dapat diatasi melalui garam yang telah
difortifikasi ypdium sesuai standar
berikut adalah pencegahan/penanggulangan
GAKY :
·
Setiap
kali memasak, selalu gunakan garam beryodium dirumah tangga
·
Untuk
daerah gondok endemic, anak-anak 1-5 tahun diberi kapsul yodium selama 1 tahun
·
Bila
ada anak dengan gejala pembesaran kelenjar gondok atau kerdil harus segera melaporkannya
pada petugas kesehatan di Puskesmas.
4. Anemia Gizi Besi ( AGB )
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh
kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit.
Anemia gizi besi ada;ah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa
hemoglobin. Prevalensi tertinggi terjadi di daerah miskin, gizi buruk dan
penderita infeksi. Hasil studi menunjukkan bahwa anemia pada masa bayi menjadi
salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak permanen.
Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk
jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan berfikir serta perubahan tingkah
laku. Penderita anemia gizi besi akan mengalami gejala seperti berikut : pucat,
lemah, lesu, sering berdebar, sakit kepala, dan jantung membesar. Hal ini akan
mengakibatkan produktivitas rendah.
AGB dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang
mengandung zat besi: konsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi, infeksi
penyakit. Selai itu dapat juga disebabkan oleh distribusi makanan yang tidak
merata ke selurug daerah.
Anemia, gizi kurang zat besi ( AGB ) masih ditemukan pada
26,3% balita indonesi tahu 2006. Anemia ( kurang zat besi ) pada ibu hamil
dapat meningkatkan resiko risiko bayi yang dilahirkan menderita kurang zat besi
juga yang berdampak pada penurunan kecerdasan anak. Oleh karena itu berbagai
upayah dilakukan pemerintah untuk menanganinya, diantaranya :
·
Pembekalan
KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk
multivitamin kepada balita.
·
Pembekalan
KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia
sekolah serta pemberian suplemen tambahan kepada anak sekolah.
·
Pembekalan
KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian nsuplemen kepada tenaga
kerja wanita
·
Peberian
KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur ( WUS )
5.
Pencegahan
dan penanggulangan gizi lebih dan gizi kurang
a. Penanggulangan
gizi kurang
Penanggulangan
masalah gizi kurang perlu dilakukan secara terpadu antardepartemen dan kelompok
profesi, melalui upaya-upaya peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman
produksi dan konsumsi pangan, peningkatan status social ekonomi, pendidikan dan
kesehatan masyarakat, serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan teknologi
pangan, semua upaya ini bertujuan untuk memperoleh perbaikan pola konsumsi
pangan masyarakat yang beraneka-ragam, dan seimbang dalam mutu gizi.
Upaya
penanggulangan masalah gizi kurang yang dilakukan secara terpadu antara lain:
·
upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui
peningkatan produksi beraneka ragam pangan;
·
peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang
diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan
tingkat rumah tangga;
·
peningkatan upaya
pelayanan gizi terpadu dan system rujukan dimulai dari tingkat pos pelayanan
terpadu(Posyandu), hingga puskesmas dan rumah sakit;
·
peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui sistem
kewaspadaan pangan dan Gizi (SKPG);
·
peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi di bidang
pangan dan gizi masyarakat;
·
peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai
produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas;
·
intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan
tambahan (PMT), distribusi kapsul viatamin A dosis tinggi, tablet dan sirop
besi serta kapsul minyak beriodium
·
peningkatan kesehatan lingkungan;
·
upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, iodium dan
zat besi;
·
upaya pengawasan makanan dan minuman; dan
·
upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi.
Melalui
Intruksi Presiden No. 8 tahun 1999 telah dicanangkan gerakan nasional penanggulangan
masalah pangan dan gizi, yang diarahkan
·
pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan
tingkat rumah tangga
·
pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan cakupan, kualitas
pencegahan dan penanggulangn masalah pangan dan gizi di masyarakat;
·
pemantapan kerja sama lintas sektor dalam pemantauan dan
penanggulangan masalah gizi melalui SKPG;
·
peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan (Azwar, A.
2000).
b. Penanggulangan
Masalah Gizi Lebih
Masalah
gizi lebih disebabkan oleh kebanyakan masukan energi dibandingkan dengan
keluaran energi.Penanggulangannya adalah dengan menyeimbangkan masukan dan
keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik atau
olahraga serta meghindari tekanan hidup/stress.Penyeimbangan masukan energi
dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari
konsumsi alcohol. Untuk itu diperlukan upaya penyuluhan ke masyarakat luas.
Disamping itu, diperlukan peningkatan teknologi pengolahan makanan tradisional
Indonesia siap santap, sehingga makanan tradisional yang lebih sehat ini
disajikan dengan cara-cara dan kemasan yang dapat menyaingi cara penyajian dan
kemasan makanan barat.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di
Indonesia.Kekurangan gizi belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi
lebih dan obesitas mulai meningkat khususnya pada kelompok sosial ekonomi
menengah ke atas di perkotaan. Dengan kata lain, saat ini Indonesia tengah
menghadapi masalah gizi ganda. Hal ini sangat merisaukan karena mengancam
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat diperlukan di masa mendatang
(Depkes RI, 2007).Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan
modal utama atau investasi dalam pembangunan kesehatan. Di Indonesia terdapat masalah gizi ganda yaitu masalah gizi
kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang di antaranya adalah KEP (
kekurangan energy protein ), KVA ( kekurangan Vitamin A), AGB (Anemia Gizi Besi)
dan GAKY ( Gangguan Akibat Kekurangan Yodium ). Sedangkan yang termasuk dalam
masalah gizi lebih yaitu Obesitas.
B.
SARAN
Sebaiknya, untuk
mengurangi angka kematian akibat masalah-masalah gizi di atas pemerintah
mengadakan program yang lebih efektif dan berkesinambungan seperti,
meningkatkan upaya kesehatan ibu untuk mengurangi bayi dengan berat lahir
rendah, meningkatkan program perbaikan zat gizi mikro, meningkatkan program
gizi berbasis masyarakat, dan memperbaiki sektor lain yang treakit
erat dengan gizi (pertanian, air dan sanitasi, perlindungan, pemberdayaan
masyarakat dan isu gender), sehingga sedikit demi sedikit angka-angka akibat
masalah gizi di atas dapat dikurangi.
DAFTAR PUSTAKA
Tantri Miharti, S. Pd, Ir. Septi
Nugraini, M.M, dkk. 2013. Ilmu gizi 1. Depok : Tim Direktorat
pembinaan SMK ( dikutip dari halaman 47 – 50 pada anggal 23 september 2018)
https://arali2008.wordpress.com/2009/12/11/apakah-masalah-gizi-itu/
( diakses pada 23 september 2018)
https://www.alodokter.com/hipertensi/gejala
( diakses pada 23 september 2018)
https://doktersehat.com/diabetes/ (
diakses pada 23 september 2018 )
https://www.academia.edu/11561040/7-faktor-yg-mempengaruhi-masalah-gizi-masyarakat?auto=download
( didownload pada 20 september 2018 )
https://www.scribd.com/document/334259476/Pengertian-Masalah-Gizi
( diakses pada 23 september 2018 )
http://amalaja.blogspot.com/2011/06/konsep-dasar-timbulnya-masalah-gizi.html
( diakses pada 23 september 2018 )
21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar