Rabu, 24 Oktober 2018

PERMASALAHAN GIZI BAGI MANUSIA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Gizi merupakan suatu elemen yang terdapat di dalam makanan yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti mineral, protein, karbohidrat, lemak dan vitamin. Gizi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan. Dimasa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang. Selain balita  remaja ,orang dewasa maupun lansia juga sangat membutuhkan gizi yang seimbang. Karena jumlah gizi yang seimbang sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. 
konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan, atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan optimum, di mana jaringan jenuh oleh semua zat gizi, maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setingi-tingginya. Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan gizi disebut gizi lebih (overnutrition), dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition).

B.     Rumusan masalah

1.      Apa itu masalah gizi
2.      Apa saja faktor penyebab masalah gizi?
3.      Apa konsep gizi berlebih?
4.      Apa konsep gizi kurang?
5.      Apa saja jenis penyakit yang timbul akibat kekurangan dan kelebihan gizi?
6.      Bagaimana cara penanggulangan dan pencegahan gizi kurang dan gizi lebih?

C.    Tujuan penulisan

1.      Mengetahui pengertian konsep masalah gizi pada manusia
2.      Mengetahui konsep gizi berlebih
3.      Mengetahui konsep gizi kurang
4.      Mengetahui jenis penyakit yang timbu akibat kekurangan dan kelebihan gizi
5.      Mengetahui cara pencegahan dan penganggulangan gizi kurang dan gizi lebih



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.      Pengertian Masalah gizi pada manusia

Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia.Kekurangan gizi belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi lebih dan obesitas mulai meningkat khususnya pada kelompok sosial ekonomi menengah ke atas di perkotaan. Dengan kata lain, saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda. Hal ini sangat merisaukan karena mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat diperlukan di masa mendatang (Depkes RI, 2007).Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama atau investasi dalam pembangunan kesehatan.

Menurut Prof Soekirman Ph.D Guru Besar Ilmu Gizi IPB Bogor. Masalah Gizi  adalah Gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kelompok orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidak seimbangan antara asupan (intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi penyakit (infeksi).

Ketidak seimbangan atau gangguan dari masalah gizi bisa karena kekurangan asupan bisa juga karena kelebihan asupan. Dari berbagai penelitian dan pemantauan pada konsumsi gizi masyarakat, ketidak seimbangan atau  gangguan  yang  muncul  dapat mengakibatkan :
1.      Menurunnya pertahanan tubuh terhadap penyakit (imunitas) yang berdampak pada tingginya angka penyakit infeksi dan kematian bayi dan balita
2.      Gangguan pertumbuhan fisik pada siklus kehidupan manusia sejak janin, bayi baru lahir,balita yang dapat berdampak sampai dewasa
3.      Gangguan perkembangan otak pada janin, bayi dan balita yang berdampak pada kecerdasan pada usia sekolah
4.      Rendahnya produktifitas kerja
5.      dan Gangguan-gangguan gizi dan kesehatan lainnya


2.      Faktor penyebab terjadinya masalah gizi

Beberapa faktor penyebab terjadinya masalah gizi di Indonesia yaitu :
a.       Faktor penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai kebutuhan, bersih, dan aman, misalnya bayi tidak memperoleh ASI Eksklusif.

b.      Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan tingginya kejadian penyakit menular terutama diare, cacingan dan penyakit pernapasan akut (ISPA). Faktor ini banyak terkait mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup sehat. Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok, sirkulasi udara dalam rumah dan sebagainya.

c.       Faktor lain yang juga berpengaruh yaitu ketersediaan pangan di keluarga, khususnya pangan untuk bayi 0—6 bulan (ASI Eksklusif) dan 6—23 bulan (MP-ASI), dan pangan yang bergizi seimbang khususnya bagi ibu hamil. Semuanya itu terkait pada kualitas pola asuh anak. Pola asuh, sanitasi lingkungan, akses pangan keluarga, dan pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan, dan akses informasi terutama tentang gizi dan kesehatan.

d.      Kemiskinan dan Masalah Gizi
Ada pula yang membedakan faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi terdiri atas :
a.  Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1.  Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2.  Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
3.  Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang  menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga
4.  Budaya
  Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan

b.   Faktor Internal

Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
1.  Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua   dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
2.  Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia,   semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all,  1986).
3.  Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all,  1986).

3.      Konsep gizi berlebih

Seiring dengan perkembangan teknologi, termasuk teknologi pertanian, transportasi, dan informasi, terjadi juga perubahan aktivitas fisi dari pola aktivitas aktif menjadi pola aktivitas kurang aktif.Hal ini diikuti pula oleh transisi gizi yang ditandai dengan perubahan pola makan, taraf aktivitas fisik, dan komposisi tubuh. Pola makan berubah menjadi fastfood atau junkfood.Aktivitas fisik berubah dari aktivitas fisik aktif menjadi kurang aktif akibat perubahan struktur pekerjaan dan waktu luang untuk menonton televisi.Dengan pola aktivitas yang semakin rendah mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk yang mengalami kelebihan gizi berupa overweight dan obesistas.

Masalah gizi merupakan masalah yang ada di tiap-tiap negara, baik negara miskin, negara berkembang dan negara maju. Negara miskin cenderung dengan masalah gizi kurang, hubungan dengan penyakit infeksi dan negara maju cenderung dengan masalah gizi lebih.

Saat ini di dalam era globalisasi dimana terjadi perubahan gaya hidup dan pola makan, Indonesia menghadapi permasalahan gizi ganda. Di satu pihak masalah gizi kurang yang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi. Selain itu masalah gizi lebih yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi
Gizi lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan menimbulkan kenaikan berat badan, berat badan lebih (overweight) dan obesitas. Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini.selanjutnya penurunan pengeluaran energi akan meningkatkan keseimbangan energi yang positif.

a.       Faktor penyebab gizi berlebih
·         Efek toksis yang membahayakan
·         Kelebihan energy
·         Kurang gerak
·         Kemajuan ekonomi
·         Kurang pengetahuan akan gizi seimbang
·         Aktivitas fisik golongan masyarakat rendah
·         Tekanan hidup/ stress

b.      Akibat Kelebihan Gizi
·         Obesitas/ kegemukan. Energy disimpan dalam bentuk lemak.
·         Penyakit degenerative: hipertensi, diabetes, jantung koroner, hepatitis, empedu.
·         Usia harapan hidup semakin menurun.

c.       Penyakit yang ditimbulkan akibat gizi berlebih

1)      Obesitas dan overwheigt
Obesitas dan overweight adalah dua kata yang mempunyai arti yang berbeda dalam segi gizi klinis, meskipun keduanya selalu disamaratakan dan disejajarkan penggunaanya. Overweight lebih mengacu pada kelebihan berat badan dibandingkan dengan standar normal.Bila berat badan 110-120% berat badan standar.Berat badan overweight bisa berasal dari otot, tulang, organ- organ vital, dan sebagainya.

Contoh dari kasus Overweight adalah para binaragawan, mereka mungkin berat badanya lebih daripada orang normal yang sama umurnya dengan mereka namun meski mereka lebih berat, tidak bisa dikatakan sebagai obese karena kelebihan berat badanya berasal dari otot.

Obesitas adalah kelebihan berat badan yang berasal dari lemak.Bila berat badan lebih dari 120% berat badan standar.Seorang bayi atau anak yang kegemukan memiliki kemungkinan lebih besar untuk tetap kegemukan pada masa pubertas dan dewasa.Penimbunan lemak yang berlebihan pada kegemukan disebabkan oleh konsumsi energi yang melebihi kebutuhan termasuk kebutuhan energi untuk pertumbuhan. Penyakit kegemukan (obesitas) disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, dimana konsumsi terlalu berlebihan dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi di dalam tubuh disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Pada keadaan normal, jaringan lemak ditimbun di beberapa tempat tertentu, diantaranya di dalam jaringan subkutan dan di dalam jaringan tirai usus (omentum). Jaringan lemak subkutan di daerah dinding perut bagian depan mudah terlihat menebal pada seseorang yang menderita obesitas.

 Asupan makanan yang cukup dan aktivitas yang cukup diperlukan untuk membakar kelebihan energi yang ada. Jika hal ini tidak terjadi, maka kelebihan energi akan diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam sel-sel lemak.
Obesitas adalah penyakit gizi berupa akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh. Penyebab obesitas oleh perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluargadan lingkungan, aktivitas fisik yang rendah , gangguan psikologis, laju pertumbuhan yang sangat cepat, genetic atau faktor keturunan juga gangguan hormone.
Pembagian macam – macam obesitas :

  • Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
  • Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
  • Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).

Penyebab gangguan keseimbangan energi antara lain adalah faktor keturunan, konsumsi energi, dan pengeluaran energi.

a.       Faktor Keturunan
Angka-angka yang menunjukkan bahwa faktor keturunan berpengaruh terhadap gangguan keseimbangan energi adalah sebagai berikut:
·         Bila bapak dan ibu tidak gemuk, kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 9%.
·         Bila bapak atau ibu gemuk, kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 41-50%.
·         Bila bapak dan ibu gemuk, kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 66-80% (Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumi,2003)

b.      Konsumsi Energi
Konsumsi energi yang berlebihan, terutama yang berasal dari karbohidrat, bisa menyebabkan kegemukan.Kebutuhan energi yang bersifat individual perlu mendapat perhatian.Frekuensi dan porsi makanan ternyata berpengaruh terhadap keseimbangan energi.Makan sering secara teratur dalam porsi kecil tidak mudah menyebabkan kegemukan dibandingkan dengan makan dalam jumlah banyak secara tidak teratur atau melewati waktu makan.

c.       Pengeluaran Energi
Pengeluaran energi yang menurun berpengaruh terhadap terjadinya kegemukan pada anak-anak.Obesitas terjadi pada anak-anak yang menderita penyakit yang menyebabkan aktivitas menurun.

Cara yang digunakan untuk mengukur obesitas adalah Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Perut. Obesitas yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh dapat dibagi menjadi obesitas perifer dan obesitas sentral atau abdominal berdasarkan lingkar perut. Bagi orang Asia, lingkar perut pada laki-laki harus kurang dari 90cm sementara pada wanita kurang dari 80cm. Jadi, IMT yang melebihi 23 dengan lingkar perut lebih dari 90cm pada laki-laki dan 80 cm pada wanita dapat digolongkan kedalam obesitas abdominal.  Etiologi obesitas sesungguhnya dapat dibagi dua, yaitu :
·         Penyebab internal yang bisa berupa permasalahan metabolisme (hormonal) atau pencernaan (enzimatik).
·         Permasalahan eksternal yang berupa ketidakseimbangan antara diet dan exercise sebagai akibat dari perubahan gaya hidup serta modernisasi, termasuk pelbagai problem psikologis dan aktualisasi diri 

2)      Hipertensi
Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Tekanan darah itu sendiri adalah kekuatan aliran darah dari jantung yang mendorong dinding pembuluh darah (arteri). Kekuatan tekanan darah ini bisa berubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh aktivitas apa yang sedang dilakukan jantung (misalnya sedang berolahraga atau dalam keadaan normal/istirahat) dan daya tahan pembuluh darahnya. Hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 milimeter merkuri (mmHG).

 Angka 140 mmHG merujuk pada bacaan sistolik, ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Sementara itu, angka 90 mmHG mengacu pada bacaan diastolik, ketika jantung dalam keadaan rileks sembari mengisi ulang bilik-biliknya dengan darah.
Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil.Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angkanya saat ini terus meningkat secara global. Peningkatan orang-orang dewasa di seluruh dunia yang akan mengidap hipertensi diprediksi melonjak hingga 29 persen pada tahun 2025.
Peningkatan kasus hipertensi juga terjadi di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) milik Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan bahwa 25,8 persen penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Laporan Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) menunjukkan angka pengidapnya meningkat jadi 32,4 persen. Ini artinya ada peningkatan sekitar tujuh persen dari tahun-tahun sebelumnya. Angka pasti di dunia nyata mungkin bisa lebih tinggi dari ini karena banyak orang yang tidak menyadari mereka memiliki tekanan darah tinggi.


a.       Gejala Hipertensi

Pada umumnya gejala hipertensi tidak diketahui dengan pasti. Sebagian besar penderita baru menyadari jika ia telah mengidap penyakt hipertensi setelah terjadi komplikasi pada organ lain seperti ginjal, mata, otak, dan jantung. Sakit kepala, mimisan,limbung dan mabuk sering dianggap sebagai ciri-ciri hipertensi. Namun secara umum gejala hipertensi adalah :
·         Sakit kepala
·         Lemas
·         Masalah dalam penglihatan
·         Nyeri dada
·         Sesak napas
·         Aritmia
·         Adanya darah dalam urine

b.      Penyebab Hipertensi
·         Penyakit ginjal
·         Kehamilan
·         Penyakit kelenjar tiroid
·         Tumor kelenjar adrenal

·         Kelainan bawaan pada pembuluh darah
·         Kecanduan alkohol
·         Penyalahgunaan NAPZA
·         Gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur (sleep apnea).
·         Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat penurun panas, pereda rasa sakit, obat batuk pilek, atau pil KB.


c.Faktor meningkatnya resiko seseorang menderita hipertensi

·         Usia. Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang terserang hipertensi semakin besar. Hipertensi pada pria umumnya terjadi pada usia 45 tahun, sedangkan pada wanita biasanya terjadi di atas usia 65 tahun.
·         Keturunan. Hipertensi rentan terjadi pada orang dari keluarga yang memiliki riwayat darah tinggi
·         Obesitas. Meningkatnya berat badan mengakibatkan nutrisi dan oksigen yang dialirkan ke dalam sel melalui pembuluh darah juga meningkat. Hal ini mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah dan jantung.
·         Terlalu banyak makan garam atau terlalu sedikit mengonsumsi makanan yang mengandung kalium. Hal ini dapat mengakibatkan tingginya natrium dalam darah, sehingga cairan tertahan dan meningkatkan tekanan dalam pembuluh darah.
·         Kurang aktivitas fisik dan olahraga. Keadaan ini dapat mengakibatkan meningkatnya denyut jantung, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Kurang aktivitas dan olahraga juga dapat mengakibatkan peningkatan berat badan, yang merupakan faktor risiko hipertensi.
·         Merokok. Zat kimia dalam rokok bisa membuat pembuluh darah menyempit, yang berdampak pada meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah dan jantung.


3)      Diabetes mellitus
                                       
Diabetes mellitus, penyakit gula atau penyakit kencing manis adalah penyakit yang disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Gangguan metabolisme tersebut disebabkan kurangnya produksi hormone insulin, yang diperlukan dalam proses pengubahan gula menjadi tenaga serta sintesis lemak. Penyakit ini sudah lama dikenal, terutama di kalangan keluarga, khususnya keluarga berbadan besar (kegemukan) bersama dengan gaya hidup “tinggi”. Diabetes Mellitus bisa berawal dengan kekurangan insulin yang bersifat relatif yang disebabkan oleh adanya resistensi insulin. 

a.       Penyebab Penyakit Diabetes Melitus

Pada prinsipnya, penyebab penyakit diabetes melitus adalah terganggunya kemampuan tubuh untuk menggunakan glukosa ke dalam sel. Tubuh normal mampu memecah gula dan karbohidrat yang Anda makan menjadi gula khusus yang disebut glukosa. Glukosa merupakan bahan bakar untuk sel-sel dalam tubuh. Untuk memasukkan glukosa ke dalam sel dibutuhkan insulin. Pada pengidap diabetes, tubuh tidak memiliki insulin (DM Tipe 1) atau insulin yang ada kurang adekuat (DM Tipe 2). Karena sel-sel tidak dapat mengambil glukosa, akibatnya ini akan menumpuk dalam aliran darah. Tingginya kadar glukosa dalam darah dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, jantung, mata, dan sistem saraf. Oleh karena itu, diabetes yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf di kaki.

b.      Gejala penyakit diabetes mellitus
·         Kelaparan dan kelelahan. Ciri yang pertama berkaitan dengan mekanisme sistem pencernaan. Tubuh mengubah makanan menjadi glukosa yang digunakan untuk menghasilkan energi. Ketika insulin tidak optimal lagi atau tidak ada, maka tubuh akan merasa mudah lelah dan cepat lapar.
·         Kencing lebih sering dan menjadi mudah haus. Rata-rata orang biasanya berkemih antara 4–7 kali dalam 24 jam, tapi orang-orang dengan penyakit ini mungkin menjadi lebih sering. Mengapa? Biasanya ginjal akan menyerap glukosa diikuti oleh penyerapan air. Tetapi pada penderita diabetes, kadar gula darah sudah meningkat sehingga tubuh tidak mungkin menyerap ulang glukosa. Akhirnya, air yang melewati ginjal menjadi lebih banyak.
·         Mulut kering dan kulit gatal. Karena semakin sering berkemih, terjadi kekurangan air pada bagian tubuh lainnya. Anda bisa mengalami dehidrasi dan mulut terasa kering. Kulit kering dapat membuat Anda gatal.
·         Penglihatan kabur. Perubahan tingkat cairan dalam tubuh bisa membuat lensa di mata membengkak sehingga lensa mata berubah bentuk dan kehilangan kemampuan untuk fokus.
Pada kondisi tertentu, terdapat gejala diabetes yang cenderung muncul setelah glukosa telah tinggi untuk waktu yang lama.
§  Infeksi jamur. Baik pria maupun wanita dengan diabetes bisa terkena ini. Jamur menyukai glukosa, sehingga orang diabetes membuat jamur mudah berkembang. Infeksi dapat tumbuh dalam area kulit yang hangat dan lembab sepeti lipatan kulit yaitu di antara jari tangan dan kaki, di bawah payudara, di sekitar organ intim
§  Penyembuhan luka yang lambat. Seiring waktu, gula darah tinggi dapat memengaruhi aliran darah dan menyebabkan kerusakan saraf yang membuat tubuh Anda sulit untuk menyembuhkan luka.
§  Nyeri atau mati rasa di kaki
§  Penurunan berat badan. Jika tubuh tidak bisa mendapatkan energi dari Anda, sel akan mulai membakar otot dan lemak untuk mendapatkan sumber energi lainnya sebagai gantinya. Pasien akan kehilangan berat badan meskipun tidak berolahraga maupun tidak mengurangi makan.
§  Mual dan muntah. Ketika tubuh membakar sumber energi lain selain glukossa, hasil pembakaran itu berupa “keton.” Darah dapat jatuh dalam kondisi pH asam, kondisi mungkin mengancam jiwa yang disebut ketoasidosis diabetikum. Keton dapat menyebabkan sakit perut, mual, dan muntah.


4)      Hipertiroid
Kelebihan yodium di dalam tubuh dikenal juga sebagai hipertiroid.Hipertiroid terjadi karena kelenjar tiroid terlalu aktif memroduksi hormon tiroksin. Biasanya ditandai gejala mudah cemas, lemah, sensitif terhadap panas, sering berkeringat, hiperaktif, berat badan menurun, nafsu makan bertambah, jari-jari tangan bergetar, jantung berdebar-debar, bola mata menonjol serta denyut nadi bertambah cepat dan tidak beraturan.Untuk memenuhi kecukupan yodium sebaiknya di dalam menu sehari-hari sertakan bahan bahan pangan yang berasal dari laut. Kebutuhan yodium perhari sekitar 1-2 mikrogram per kg berat badan.Kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 mikrogram/ hari untuk anak sampai umur 10 tahun, 150 mikrogram/ hari untuk orang dewasa.Untuk wanita hamil dan menyusui dianjurkan tambahan masing-masing 25 mikrogram dan 50 mikrogram/ hari.


5)      Stroke
Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Dengan kata lain penyakit stroke ini merupakan penyakit pembuluh darah otak (serebrovaskuler) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) hal ini disebabkan karenakan adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah menuju otak sehingga pasokan darah dan oksigen ke otak berkurang dan menimbulkan serangkaian reaksi biokimia yang akan merusakkan atau mematikan sel-sel saraf otak. Jumlah penderita stroke di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya.
Pada akhir tahun 2012 lalu, sebuah lembaga mencatat telah terjadi sekitar 500.000 kasus penderita stroke dengan angka 12.500 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Sementara sisanya mengalami cacat, baik ringan maupun berat.Karena itu pengobatan awal serta pencegahan menjadi perang penting dalam memerangi stroke.

a.Penyebab stroke

Ada dua faktor yang merupakan penyebab stroke yaitu resiko medis dan resiko perilaku
·         Faktor risiko medis
Faktor resiko medis yang menyebabkan atau memperparah stroke antara lain hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi), kolesterol, arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah), gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke dalam keluarga (faktor keturnan) dan migren (sakit kepelah sebelah).Menurut data statistik 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis.
·         Faktor risiko perilaku
Faktor resiko perilaku disebakan oleh gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, menkonsumsi minuman bersoda dan beralkohol gemar mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food dan junk food). Faktor resiko perilaku lainnya adalah kurangnya aktifitas gerak / olah raga dan obesitas.Salah satu pemicunya juga adalah susasana hati yang tidak nyaman seperti sering marah tanpa alasan yang jelas.

b..Gejala Serangan Stroke
Pada tingkat awal, masyarakat, keluarga dan setiap orang harus memperoleh informasi yang jelas dan meyakinkan bahwa stroke adalah serangan otak yang secara sederhana mempunyai lima tanda-tanda utama yang harus dimengerti dan sangat difahami. Hal ini penting agar semua orang mempunyai kewaspadaan yang tinggi terhadap bahaya serangan stroke.

c.Tanda seseorang terserang stroke
·         Nyeri pada satu sisi wajah
·         Pandangan kabur
·         Kesulitan untuk menghirup atau menelan
·         Tremor. Tremor akan sering terjadi saat gejala stroke nampak. Penyebabnya adalah terjadi penyumbatan suplai darah ke otak.
·         Sulit berjalan
·         Kelumpuhan di wajah
·         sakit kepala
·         Kebingungan
·         Vertigo



4.      Konsep gizi kurang
Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energy dan protein, pada tahap awal akan menyebabkan rasa lapar kemudian dalam jangka waktu tertentu berat badan akan menurun disertai dengan menurunnya produktivitas kerja.  Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi, tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Menurut Depkes RI (2006) masalah kurang gizi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan dapat menjadi penyebab kematian terutama pada kelompok resiko tinggi (bayi dan balita). Menurut Alan Berg (1986), gizi yang kurang mengakibatkan terpengaruhnya perkembangan mental, perkembangan jasmani, dan produktifitas manusia karena semua itu mempengaruhi potensi ekonomi manusia. Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja.Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.kekurangan gizi secara umum baik kurang secara kualitas dan kuatitas menyebabkan gangguan pada proses-proses tubuh seperti gangguan pertumbuhan, gangguan produksi krja, gangguan pertahanan tubuh dan gangguan struktur dan fungsi otak.

a.       Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Gizi Kurang

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya gizi kurang, antara lain :

·         Pola makan atau asupan gizi yang kurang dan pola hidup masyarakat.
·         Faktor sosial budaya
  Yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. Sehingga, banyak balita yang diberi makan "sekadarnya" atau asal kenyang padahal miskin gizi.Masalah lainnya juga berupa pantangan untuk menggunakan makanan tertentu yang mungkin memiliki nilai gizi tinggi namun, tidak dikonsumsi karena sudah merupakan tradisi yang turun-temurun sehingga, dapat mempengaruhi terjadinya gizi kurang.
·         Faktor pendidikan
      Kurang adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan masyarakat yang pendidikannya relatif rendah seperti, pengetahuan orang tua tentang pentingnya asupan makanan yang cukup nutrisi.
·         Faktor ekonomi dan kepadatan penduduk
      Kemiskinan keluarga dan penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi. Rendahnya pendapatan masyarakat dan laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya. ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun bisa menjadi penyebab terjadinya gizi kurang.
·         Faktor infeksi dan penyakit lain :

·         Sanitasi Lingkungan
·     Pola pengasuhan anak, berupa perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal  memberikan makan, merawat, kebersihan memberi kasih sayang dan sebagainya. Kesemuanya berhubungan dengan kesehatan ibu (fisik dan mental), status gizi, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, adat kebiasaan dan sebagainya dari si ibu dan pengasuh lainnya.
·        Bencana alam, perang, kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat. Banjir, tanah longsor, tsunami, letusan gunung berapi dan bencana alam lain akan menghambat pemenuhan gizi di Indonesia. Bencana alam berpotensi menghalang proses distribusi bahan makanan sehingga bahan pangan yang ada tidak terdistribusi dengan baik.
·        Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai.


b.      Penyakit yang ditimbulkan akibat gizi kurang:

Ø  KEP (Kurang Energi Protein/protein energy malnutrition (PEM)/ protein kalori malnutrition (PCM )
KEP suatu penyakit kurang gizi karena tubuh kurang memperoleh makanan berupa sumber zat tenaga (energy) dan sumber zat pembangun (protein) dalam waktu yang lama.Bila ditimbang, titik berat badan anak pada KMS terletak dibawah garis merah atau kurang 60% dari berat anak yang seharusnya.Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil da nib u menyusui.KEP berat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu, tipe kwarshiorkor dan tipe marasmus atau tipe marasmikwashiorkor.Gejala klinis KEP ringan diantaranya pertumbuhan berkurang atau bahkan berhenti; brat badan berkurang, terhenti bahkan turun; ukuran lingkar  lengan menurun; maturasi tulang terhambat; rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun; tebal lipat kulit normal atau menurun; aktifitas dan perhatian kurang; kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan. Adapun penyebab KEP ringan yaitu masukan makanan baik kuantitas dan kualitas yang rendah, gangguan atau system pencernaan atau penyerapan makanan, pengetahuan yang kurang tentang gizi.

Ø  Kwarshiorkor
Kwarshiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul  pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan protein dalam makanan, gangguan penyerapan protein, kehilangan protein secara tidak normal, infeksi kronis ataupun karena pendarahan. Berikut adalah gejala kwarshorkor : Wajah seperti bingung dan mata cekung, sinar mata sayu ; pertumbuhan terganggu; berat dan tinggi badan lebih rendah dibandingkan dengan berat badan normal; perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis ); rambut merah, jarang, mudah dicabut; jaringan lemak masih ada; perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput); terkadang terjadi pembengkakan tubuh (oedema) sehingga menyamarkan penurunan berat badan; jaringan otot mengecil


Ø  Marasmus
Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi kurus dan emosional. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup mendapatkan asi serta tidak dibri makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi yang sering diare. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori di dalam makanan, kebiasaan makanan yang tidak layak dan penyakit-penyakit infeksi saluran-saluran pencernaan. Berikut adalah gejala penderita marasmus : wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus; mata besar dan dalam, sinar mata sayu; mental cengeng; feses lunak atau diare; rambut hitam, tidak mudah dicabut; jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak sub kutan menghilang hingga turgor kulit menghilang. Kulit keriput, dingin, kering, dan mengendur; perut buncit.

Ø  Kwashiorkor-marasmus
Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwarshiorkor. Program pemerintah untuk menanggulangi KEP diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama ibu hamil, bayi, balita dan anak sekolah dasar. Program tersebut mencakup berbagai kegiatan seperti penyuluhan gizi, peningkatan pendapatan keluarga, penigkatan pelayanan kesehatan, KB- keluarag Berencana.Adapaun pemantauan tumbbuh kembang anak diupayakan melalui keluarga, dasawisma dan posyandu.

2)      KVA ( Kurang Vitamin A)
Vitamin A merupakan nutrient essensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika asupannya berlebihan bisa menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air.Keurangan asupan vitamin A bisa menyebabkan diare yang bisa be3rujung pada kematian dan pneumonia. Prevalensi tertinggi terjadi pada balita. Hal ini disebabkan oleh intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah, rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada ibu hamil sampai melahirkan sehingga mempengaruhi kadar vitamin A yang terkandung dalam ASI. Selain itu dapat disebabkan oleh MP-ASI  yang kurang kandungan vitamin A, gangguan absorbs vitamin A dan pro vitamin A (penyakit pancreas, diare kronik, KEP ), gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A.

Ø  Akibat kekurangan vitamin A :
·         Menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi ( misalnya sakit batuk, diare dan campak ).
·         Rabun senja ( anak dapat melihat suatu benda , jika ia tiba-tiba berjalan dari tempat yang terang ke tempat yang gelap ). Rabun senja dapat berakhir pada kebutaan.

Cara mencegah dan mengatasi kekurangan vitamin A :
·         Setiap hari anak diberi makanan yang mengandung vitamin A, seperti hati ayam.
·         Setiap hari anak dianjurkan makan sayuran hijau dan buah-buahan berwarna.
·         Sebaiknya sayuran ditumis menggunakan minyak atau dimasak dengan santan, sebab vitamin A larut dalam minyak santan\Kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak setiap 6 bulan di Posyandu
·         Kapsul vitamin  A dosis tinggi diberikan pada ibu segera setelah melahirkan.

3)       GAKY ( Gangguan Akibat Kekurangan Yodium )
Gaky tidak berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi suatu masyarakat melainkan dengam geografis.Penyakit ini merupakan masalah dunia yang terjadi pada kawasan pegunugan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium. Kekurangan yodium saat janin berlanjut dengan gagal dalam pertumbuhan anak usia 2 tahun dpat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran kelenjar gondok.

 Berikut spektrum gangguan akibat kekurangan yodium.
·         Pada fetus ( janin ): abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa ( bisu tuli, defisiensi mental, mata juling ), cacat bawaan, kretinisme, kerusakan psikomotor.
·         Anak dan remaja: gondok, gangguan fungsi mental ( IQ rendah ), gangguan perkembangan.
·           Dewasa: gondok, hipotirod gangguan fungsi mental.
·         Gangguan akibat kekurangan yodium ( GAKY ) dapat diatasi melalui garam yang telah difortifikasi ypdium sesuai standar 

berikut adalah pencegahan/penanggulangan GAKY :
·         Setiap kali memasak, selalu gunakan garam beryodium dirumah tangga
·         Untuk daerah gondok endemic, anak-anak 1-5 tahun diberi kapsul yodium selama 1 tahun
·         Bila ada anak dengan gejala pembesaran kelenjar gondok atau kerdil harus segera melaporkannya pada petugas kesehatan di Puskesmas.

4. Anemia Gizi Besi ( AGB )
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. Anemia gizi besi ada;ah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin. Prevalensi tertinggi terjadi di daerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi. Hasil studi menunjukkan bahwa anemia pada masa bayi menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak permanen.

Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku. Penderita anemia gizi besi akan mengalami gejala seperti berikut : pucat, lemah, lesu, sering berdebar, sakit kepala, dan jantung membesar. Hal ini akan mengakibatkan produktivitas rendah.
AGB dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi: konsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi, infeksi penyakit. Selai itu dapat juga disebabkan oleh distribusi makanan yang tidak merata ke selurug daerah.
Anemia, gizi kurang zat besi ( AGB ) masih ditemukan pada 26,3% balita indonesi tahu 2006. Anemia ( kurang zat besi ) pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko risiko bayi yang dilahirkan menderita kurang zat besi juga yang berdampak pada penurunan kecerdasan anak. Oleh karena itu berbagai upayah dilakukan pemerintah untuk menanganinya, diantaranya :

·         Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi ( KIE ) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui.
·         Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita.
·         Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemberian suplemen tambahan kepada anak sekolah.
·         Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian nsuplemen kepada tenaga kerja wanita
·         Peberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur ( WUS )


5.      Pencegahan dan penanggulangan gizi lebih dan gizi kurang
a.      Penanggulangan gizi kurang

Penanggulangan masalah gizi kurang perlu dilakukan secara terpadu antardepartemen dan kelompok profesi, melalui upaya-upaya peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman produksi dan konsumsi pangan, peningkatan status social ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat, serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan teknologi pangan, semua upaya ini bertujuan untuk memperoleh perbaikan pola konsumsi pangan masyarakat yang beraneka-ragam, dan seimbang dalam mutu gizi.
Upaya penanggulangan masalah gizi kurang yang dilakukan secara terpadu antara lain:
·         upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui peningkatan produksi beraneka ragam pangan;
·         peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga;
·          peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan system rujukan dimulai dari tingkat pos pelayanan terpadu(Posyandu), hingga puskesmas dan rumah sakit;
·         peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui sistem kewaspadaan pangan dan Gizi (SKPG);
·         peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi di bidang pangan dan gizi masyarakat;
·         peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas;
·         intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan tambahan (PMT), distribusi kapsul viatamin A dosis tinggi, tablet dan sirop besi serta kapsul minyak beriodium
·         peningkatan kesehatan lingkungan;
·         upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, iodium dan zat besi;
·         upaya pengawasan makanan dan minuman; dan
·         upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi.


Melalui Intruksi Presiden No. 8 tahun 1999 telah dicanangkan gerakan nasional penanggulangan masalah pangan dan gizi, yang diarahkan
·         pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga
·         pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan cakupan, kualitas pencegahan dan penanggulangn masalah pangan dan gizi di masyarakat;
·         pemantapan kerja sama lintas sektor dalam pemantauan dan penanggulangan masalah gizi melalui SKPG;
·         peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan (Azwar, A. 2000).


b.      Penanggulangan Masalah Gizi Lebih

Masalah gizi lebih disebabkan oleh kebanyakan masukan energi dibandingkan dengan keluaran energi.Penanggulangannya adalah dengan menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik atau olahraga serta meghindari tekanan hidup/stress.Penyeimbangan masukan energi dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alcohol. Untuk itu diperlukan upaya penyuluhan ke masyarakat luas. Disamping itu, diperlukan peningkatan teknologi pengolahan makanan tradisional Indonesia siap santap, sehingga makanan tradisional yang lebih sehat ini disajikan dengan cara-cara dan kemasan yang dapat menyaingi cara penyajian dan kemasan makanan barat.
 




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia.Kekurangan gizi belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi lebih dan obesitas mulai meningkat khususnya pada kelompok sosial ekonomi menengah ke atas di perkotaan. Dengan kata lain, saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda. Hal ini sangat merisaukan karena mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat diperlukan di masa mendatang (Depkes RI, 2007).Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama atau investasi dalam pembangunan kesehatan.  Di Indonesia terdapat masalah gizi ganda yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang di antaranya adalah KEP ( kekurangan energy protein ), KVA ( kekurangan Vitamin A), AGB (Anemia Gizi Besi) dan GAKY ( Gangguan Akibat Kekurangan Yodium ). Sedangkan yang termasuk dalam masalah gizi lebih yaitu Obesitas.

B.     SARAN

Sebaiknya, untuk mengurangi angka kematian akibat masalah-masalah gizi di atas pemerintah mengadakan program yang lebih efektif dan berkesinambungan seperti, meningkatkan upaya kesehatan ibu untuk mengurangi bayi dengan berat lahir rendah, meningkatkan program perbaikan zat gizi mikro, meningkatkan program gizi berbasis masyarakat,  dan memperbaiki sektor lain yang treakit erat dengan gizi (pertanian, air dan sanitasi, perlindungan, pemberdayaan masyarakat dan isu gender), sehingga sedikit demi sedikit angka-angka akibat masalah gizi di atas dapat dikurangi.





DAFTAR PUSTAKA

Tantri Miharti, S. Pd, Ir. Septi Nugraini, M.M, dkk. 2013. Ilmu gizi 1. Depok : Tim Direktorat pembinaan SMK ( dikutip dari halaman 47 – 50 pada anggal 23 september 2018)
https://arali2008.wordpress.com/2009/12/11/apakah-masalah-gizi-itu/ ( diakses pada 23 september 2018)
https://www.alodokter.com/hipertensi/gejala ( diakses pada 23 september 2018)
https://doktersehat.com/diabetes/ ( diakses pada 23 september 2018 )
https://www.academia.edu/11561040/7-faktor-yg-mempengaruhi-masalah-gizi-masyarakat?auto=download ( didownload pada 20 september 2018 )
https://www.scribd.com/document/334259476/Pengertian-Masalah-Gizi ( diakses pada 23 september 2018 )
http://amalaja.blogspot.com/2011/06/konsep-dasar-timbulnya-masalah-gizi.html ( diakses pada 23 september 2018 )










21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar