BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Keluarga merupakan
tempat yang penting bagi perkembangan anak secara fisik, emosi, spiritual dan
sosial. Karena keluarga merupakan sumber bagi kasih sayang perlindungan dan
identitas bagi anggotanya. Keluarga menjalankan fungsi yang penting bagi
keberlangsungan masyarakat dari generasi ke generasi. Dari kajian lintas budaya
ditemukan 2 fingsi utama keluarga yakni internal, memberikan perlindungan
psokososial bagi para anggotanya-dan ekternal, mentransmisikan nila-nilai
budaya pada generasi selanjutnya (Minuchin, 1974).
Kajian tentang
keberfungsian keluarga merupakan salah satu topik yang memperoleh perhatian
dari para peneliti dan terapis. Secara umum, keberfungsian keluarga merujuk
pada kualitas kehidupan keluarga, baik pada level sistem maupun subsistem, dan
keberkenaan dengan kesejahteraan, kompetensi, kekuatan dan kelemahan keluarga
(Shek, 2002).
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian disfungsi dan disorientasi keluarga?
2.
Apa saja macam – macam disfungsi
keluarga?
3. Apa saja factor disfungsi keluarga?
4. Apa saja
masalah disorientasi keluarga?
5. Apa dampak
dari disfungsi dan disorienasi keluarga?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui pengertian
disfungsi dan disorientasi keluarga
2.
Mengetahui fungsi dalam keluarga
3.
Memahami bagaimana kedisfungsian
keluarga
4.
Memahami
apa saja disorientasi pada keluarga
5.
Mengetahui
dampak disfungsi dan disorientasi bagi keluarga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
fungsi dan disfungsi keluarga
Keluarga
merupakan suatu sistem sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga merupakan
sistem karena di dalamnya setiap anggota keluarga saling berinteraksi dengan
anggota keluarga yang lain untuk suatu keutuhan. Sebagai sebuah sistem keluarga
memiliki ciri-ciri saling ketergantungan (interdependence), keutuhan
(wholeness), tata cara dan peraturan diri (patterns and self regulation), serta
keterbukaan (openness) (Addler & Rodman,1991).
Fungsi
keluarga yaitu sistem dimana setiap
anggota keluarga mampu menjalankan tugas dan kedudukannya di dalam keluarga.
Sedangkan Disfungsi keluarga dapat
diartikan sebagai sebuah sistem sosial terkecil dalam masyarakat dimana
anggota-anggotanya tidak atau telah gagal manjalankan fungsi-fungsi secara
normal sebagaimana mestinya. Hubungan yang terjalin di dalamnya tidak berjalan
dengan harmonis, seperti fungsi masing-masing anggota keluarga tidak jelas atau
ikatan emosi antar anggota keluarga kurang terjalin dengan baik (Siswanto,
2007).
Sebagai sebuah sistem, keluarga
dapat terpecah apabila salah satu atau lebih anggota keluarga tidak menjalankan
tugas dan fungsinya dalam keluarga hingga menyebabkan terjadinya keluarga
disfungsi.
B.
Fungsi keluarga
1. Agama
Keluarga menanamkan
dan menumbuhkan serta
mengembangkan nilai-nilai
agama, sehingga remaja
menjadi manusia yang berakhlak baik
dan bertaqwa sesuai dengan agama
yang dianut.
2.
Sosial Budaya
Keluarga adalah wahana
pertama dan utama dalam
pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya yang selama ini
menjadi panutan dalam
tata kehidupan dan diajarkan melalui
contoh perilaku orangtuanya melalui interaksi antar keduanya.
3.
Cinta kasih / fungsi afeksi
Dengan cinta dan kasih sayang suasana
rumah akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi anak
dan seluruh penghuninya.
Sehingga rumah menjadi tempat
tinggal dan berkumpulnya
seluruh kegembiraan,
kedamaian dan kesopanan.
4.
Fungsi perlindungan
Keluarga sebagai
unit terkecil dari sistem
sosial adalah tempat
bernaung atau berlindung bagi seluruh anggotanya.
5.
Reproduksi
Merupakan tempat mengembangkan fungsi
reproduksi atau melanjutkan keturunan secara
universal (menyeluruh) diantaranya
seksualitas yang sehat dan berkualitas, pendidikan seksualitas bagi
anak dan
yang lainnya.
6.
Sosialisasi pendidikan
Fungsi
pendidikan dimana hal ini
terkait dengan pendidikan
anak secara khusus dan
pembinaan anggota keluarga
pada umumnya.
7.
Ekonomi
Keluarga sebagai
tempat membina dan
menanamkan nilai-nilai keuangan
keluarga dan perencanaan keuangan
keluarga sehingga terwujud keluarga sejahtera.
8.
Lingkungan
Berhubungan dengan penempatan diri
untuk keluarga sejahtera dalam lingkungan hidup yang dinamis
secara serasi, selaras
dan seimbang.
C. Faktor
Penyebab Disfungsi keluarga
1.
Kurangnya
Persiapan antara Suami dan Istri Ketika Hendak Membina Rumah Tangga. Adanya
pernikahan yang didorong oleh emosi hanya akan menimbulkan adanya disfungsi
keluarga. Hal ini dapat terlihat dari suami/istri yang tidak dapat menerima
kekurangan yang ada. Ketika nanti terjadi suatu kesalahpahaman, emosi
masing-masing terlalu mudah meningkat hingga berujung pada perdebatan
mempertahankan ego masing-masing. Perdebatan yang terlalu sering terjadi ini
bahkan menyebabkan pertengkaran. Apabila pertengkaran yang sering terjadi ini
pada suami dan istri yang belum mempunyai anak, tidak akan menjadi masalah yang
berakibat pada orang lain. Namun, akan berdampak fatal apabila pertengkaran
yang sering terjadi ini di hadapan anak secara langsung.
2.
Salah
Satu atau Kedua Orang tua Terlalu Sibuk. Target-target untuk memenuhi kebutuhan
hidup terkadang membuat seseorang lalai akan kewajiban lain yang seharusnya
dilaksanakan. Apabila salah satu diantara ayah/ibu yang terlalu divorsir
menggunakan waktunya untuk bekerja, maka anak akan sangat kurang mendapatkan
waktu senggang untuk berkumpul dengan kedua orang tua. Bahkan apabila kedua
orang tua mampu untuk menyediakan pembantu rumah tangga, tidak menutup
kemungkinan bagi anak untuk justru lebih dekat dengan pembantu rumah tangganya.
3.
Komunikasi
yang Tidak Efektif . Komunikasi di sini
tidak semata-mata percakapan dengan bahasa biasa antara anggota keluarga.
Apabila kedua orang tua di dalam rumah terlalu sering bertengkar di hadapan
anak secara langsung, anak akan menumpuk rasa marah karena merasa tidak nyaman
dengan suara-suara yang keras itu. Anak akan beranggapan bahwa dalam kehidupan
sehari-hari berbicara dengan suara keras adalah hal biasa. Bahkan mungkin
termasuk kata-kata yang sering digunakan merupakan kata-kata yang kasar dan
terkesan tidak sopan bagi masyarakat pada umumnya. Nantinya ketika rasa marah
ini memuncak, anak akan berusaha mencari berbagai cara yang dianggapnya dapat
melampiaskan amarahnya. Anak akan berada pada posisi tidak mampu lagi
membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan salah.
Nilai-nilai hidup bermasyarakat yang seharusnya dimiliki pun perlahan luntur
karena tuntutan ego nya untuk melampiaskan amarah.
4.
Ketidakmampuan
Kedua Orang tua dalam Menyatukan Dua Budaya yang Berbeda.
Kedua orang tua yang berasal dari budaya berbeda apabila tidak terbiasa mampu menyesuaikan diri dan saling mengerti akan sering terjadi kesalahpahaman ketika proses komunikasi berlangsung. Salah paham ini mengarah pada perdebatan samapi pada pertengkaran. Masing-masing akan merasa bahwa dirinya sudah benar, tidak terima akan kritik dan masukan yang diberikan. Sekalipun masukan itu bermaksud baik, namun bila yang ada hanya kesalahpahaman maka semua itu hanya akan menjadi penyebab pertengkaran kedua orang tua.
Kedua orang tua yang berasal dari budaya berbeda apabila tidak terbiasa mampu menyesuaikan diri dan saling mengerti akan sering terjadi kesalahpahaman ketika proses komunikasi berlangsung. Salah paham ini mengarah pada perdebatan samapi pada pertengkaran. Masing-masing akan merasa bahwa dirinya sudah benar, tidak terima akan kritik dan masukan yang diberikan. Sekalipun masukan itu bermaksud baik, namun bila yang ada hanya kesalahpahaman maka semua itu hanya akan menjadi penyebab pertengkaran kedua orang tua.
D. Macam
– macam disfungsi keluarga
1.
Disfungsi Keluarga Biasa
Dalam kategori ini setiap
gangguan keluarga yang dapat merupakan komplikasi atau variasi dari perkembangan
keluarga yang biasa.
·
Keluarga terputus karena
terjadi perceraian antara kedua orang tua.
·
Keluarga tunggal sebagai
akibat dari perceraian atau perpisahan suami dan istri, masing-masing membentuk
keluarga sendiri-sendiri (tidak kawin lagi), sebagian anak ada yang ikut ayah
dan sebagian lain ikut ibu.
Catatan: ada juga single
parent family, yaitu ayah dan ibu yang tidak kawin, namun mempunyai anak angkat
(adopsi) atau anak yang diperolehnya bukan dari perkawinan.
·
Keluarga baru, satu bentuk keluarga di mana
masing-masing suami/istri kawin kembali. Permasalahan dapat timbul karena
hubungan dengan keluarga yang lama, sebelum terjadi perceraian. Dalam bentuk
keluarga ini diperlukan kembali penyesuaian diri dari masing-masing pihak,
suami/istri atau ayah/ibu dan anak-anaknya.
·
Keluarga tidak stabil yang
berkelanjutan. Ketidakstabilan yang terjadi karena perpindahan, perpisahan,
atau perceraian yang berulang kali.
2.
Disfungsi Perkembangan
Keluarga
Dilihat dari sudut perkembangan, maka berbagai gangguan atau disfungsi
yang dapat terjadi pada keluarga adalah:
a.
Disfungsi keluarga primer.
Terjadi disfungsi anggota pasangan suami istri yang disebabkan oleh:
·
Ketidakmampuan untuk membentuk
hubungan yang rukun, cocok dan harmonis.
·
Kegagalan dalam mengadakan
perjanjian dan tanggung jawab perkawinan.
·
Menunjukkan suatu
perkawinan yang neurotik (gangguan kejiwaan) karena ada harapan - harapan yang menimbulkan
konflik.
·
Kesulitan untuk melepaskan
diri dari keluarga asal.
b.
Disfungsi keluarga
sehubungan dengan kelahiran anak, ditandai dengan:
· Kesukaran karena perubahan peranan sebagai ayah atausebagai ibu.
· Harapan neurotik yang dihubungkan dengan anak yang dilahirkan.
c.
Disfungsi keluarga
sehubungan dengan pengasuhan anak yang ditandai dengan:
·
Kegagalan untuk
menciptakan suasana psikologis yang sehat untuk keluarga yang semakin besar.
·
Kesukaran dalam
mengorganisasi keluarga sebagai suatu kelompok.
·
Kesukaran dalam menghadapi
beberapa anak dengan usia yang berbeda-beda.
·
Kesukaran dalam menghadapi
permasalahan kebersamaan dan perpisahan dalam upaya mengatasi segi tiga antara
ayah, ibu dan anak.
d.
Disfungsi maturitas
(kematangan) keluarga, di mana anak-anak sudah besar dan ingin berdiri sendiri.
Orang tua mungkin mempunyai kesulitan untuk melepaskan diri dari anak-anaknya
yang sudah dewasa dan untuk menegakkan kembali keseimbangan kembali perkawinan mereka.
e.
Disfungsi keluarga karena
berkurangnya anggota keluarga. Hal ini terjadi manakala orang tua tidak
siapuntuk berpisah dengan salah satu anggota keluarganya. Keluarga dapat
mengalami kesukaran penyesuaian diri kembali setelah berpisah dengan salah
seorang anggota keluarganya itu.
3.
Disfungsi Antar Anggota
Keluarga
Keluarga sebagai suatu subsistem (ayah, ibu dan anak-anak) dapat pula
mengalami berbagai gangguan di antara anggota keluarga. Termasuk dalam kategori
ini adalah gangguan hubungan suami istri (orang tua), antara orang tua dan
anak-anak, serta antara sesama anak. isfungsi subsistem suami istri terjadi
karena perkawinan. Sebagai individu, suami/istri dapat berfungsi dengan baik,
namun dalam bentuk perkawinan malah terbalik. Berdasarkan sifat hubungan suami
istri, maka berbagai disfungsi dapat disebutklan sebagai berikut:
a.
Disfungsi perkawinan di
mana suami istri merupakan pasangan yang saling melengkapi. Kombinasi
pasangan tersebut ialah:
b.
Disfungsi perkawinan penuh
konflik di mana suami istri merupakan kombinasi dua orang yang kedua-duanya
mempunyai kecendrungan untuk menguasai dan mengendalikan.
c.
Disfungsi perkawinan di
mana kedua suami istri saling menggantungkan diri, merasa tidak berdaya dan
secara emosional imatur (tidak dewasa).
d.
Disfungsi perkawinan di
mana hubungan suami istri menjadi berkurang dan hubungan menjadi dingin.
Perkawinan dipertahankan semata-mata karena alsan agama dan sosial.
e.
Disfungsi perkawinan di
mana terajadi perbedaan tanaj antara suami istri. Terdapat perbedaan besar dalm
kepribadian, cara hidup, sistem nilai, usia, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya.
4.
Disfungsi Hubungan Orang
tua-Anak
Dalam hal ini permasalahan keluarga timbul karena terjadi gangguan
interaksi (hubungan) antara orang tua dan anak, yang dapat berupa:
·
Disfungsi keluarga terjadi
sehubungan dengan kondisi psikopatologis (sakit secara psikologis) pada ke dua
orang tua.
·
Disfungsi keluarga terjadi
karena adannya kondisi psikopatologis pada anak.
·
Disfungsi keluarga terjadi
sehubungan dengan kondisi yang simbolik dan bersamaan pada psikopatologi orang
tua dan anak.
·
Disfungsi keluarga terjadi
sehubungan dengan adanya konflik segitiga antara ayah, ibu dan anak.
5.
Disfungsi Sesama
Saudara/Anak
Terjadi permasalahan dalam keluarga karena adanya persaingan atau
perselisihan antara satu anak dengan anak yang lain. Perselisihan antara anak-anak
ini dapat melibatkan kedua orang tua ataupun keluarga lainnya.
6.
Disfungsi Keluarga sebagai
Kelompok Sosial
Berbagai permasalahan dapat timbul sehubungan dengan organisasi keluarga
itu sendiri, integrasi antar anggota, komunikasi, pembagian peran, penyelesaian
tugas, hubungan emosional, dan lain sebagainya. Termasuk dalam kategori ini
adalah sebagai berikut:
·
Keluarga yang dipimpin
oleh kedua orang tua yang imatur (tidak dewasa).
·
Keluarga yang dipimpin
oleh kedua orang tua yang perfeksionis (harus serba sempurna).
·
Keluarga di mana antara
sesama anggota keluarga tidak terdapat kepuasan satu dengan lainnya.
·
Keluarga di mana terjadi
kekacauan peran dan fungsi antar anggota keluarga.
·
Keluarga di mana terdapat
keseimbangan yang patologis (sakit).
E.
Dampak-dampak disfungsi keluarga terhadap
Pembentukan Kepribadian Anak
1. Adanya Kebimbangan pada Anak dalam
Menentukan Jati Diri.
Self concept yang sudah terbentuk pada diri anak kelak akan terwujud menjadi sebuah kepribadian dan jati diri bagi anak. Namun apabila kedua orang tuanya tidak mampu menjadi sebuah teladan dan pegangan bagi anak, maka pada diri anak hanya akan terjadi kebimbangan harus mengikuti yang mana. Demikian hal nya ketika fungsi-fungsi dalam keluarga itu tidak terasa manfaatnya bagi anak, maka anak akan kehilangan pedoman dan arah tujuan yang seharusnya merupakan sesuatu yang utuh, yang menjadi tujuan bersama dalam suatu keluarga
Self concept yang sudah terbentuk pada diri anak kelak akan terwujud menjadi sebuah kepribadian dan jati diri bagi anak. Namun apabila kedua orang tuanya tidak mampu menjadi sebuah teladan dan pegangan bagi anak, maka pada diri anak hanya akan terjadi kebimbangan harus mengikuti yang mana. Demikian hal nya ketika fungsi-fungsi dalam keluarga itu tidak terasa manfaatnya bagi anak, maka anak akan kehilangan pedoman dan arah tujuan yang seharusnya merupakan sesuatu yang utuh, yang menjadi tujuan bersama dalam suatu keluarga
2. Depresi
Ayub Sani Ibrahim (2007:12) menyatakan menurut ilmu kesehatan jiwa (psikiatri), depresi merupakan penyakit yang bagian-bagiannya terdiri dari sindroma klinik. Sindroma klinik berkaitan dengan gangguan alam perasaan, alam pikir dan tingkah laku motoriknya yang menurun (berkurang). Pada keadaan depresi, anak akan merasa bahwa dirinya tidak hanya sedih, perasaannya menjadi tidak senang dan murung. Merasa kasihan terhadap dirinya sendiri. Depresi pada anak akan muncul dalam berbagai sikap dan perilaku. Antara lain:
Ayub Sani Ibrahim (2007:12) menyatakan menurut ilmu kesehatan jiwa (psikiatri), depresi merupakan penyakit yang bagian-bagiannya terdiri dari sindroma klinik. Sindroma klinik berkaitan dengan gangguan alam perasaan, alam pikir dan tingkah laku motoriknya yang menurun (berkurang). Pada keadaan depresi, anak akan merasa bahwa dirinya tidak hanya sedih, perasaannya menjadi tidak senang dan murung. Merasa kasihan terhadap dirinya sendiri. Depresi pada anak akan muncul dalam berbagai sikap dan perilaku. Antara lain:
·
Terlalu
mudah menangis
·
Terlalu mudah tersinggung
·
Sulit tidur
·
Jam tidur berlebih
·
Sering membicarakan kesedihannya
3. Terlalu menutup diri, hingga sulit
bergaul dengan teman dan Kesulitan dalam Menyesuaikan Diri
Akibat
dari sikap yang terlalu tertutup dan sangat sensitif, maka anak akan merasa
nyaman dengan melakukan segala sesuatunya sendiri. Apabila ada penolakan dalam
dirinya, anak akan cenderung memilih untuk diam dan tidak berdaya untuk
menyampaikan maksudnya kepada orang lain. Baik dengan alasan merasa malu atau
pun takut salah. Rasa takut salah akan muncul jika sejak kecil anak sudah
terbiasa dipersalahkan orang tuanya. Segala sesuatu yang dilakukan selalu
dianggap dan dikatakan salah. Anak akan merasa kesulitan menerima keberadaan
orang lain di lingkungan baru. Sesuatu yang baru jika dirasa tidak sesuai
dengan kemauannya maka anak akan lebih memilih untuk melakukan segala
sesuatunya sendirian tanpa mempedulikan keberadaan orang lain di sekitarnya.
4. Munculnya Kenakalan pada Anak.
Kenakalan
merupakan segala sesuatu yang apabila dilakukan oleh anak dapat menimbulkan
keresahan pada orang tua, cenderung merupakan perilaku yang mengganggu
kenyamanan orang lain dan bertentangan dengan nilai-nilai baik dan benar.
Singgih D. Gunarsa (2004:23) menyatakan beberapa bentuk kenakalan anak antara lain:
a. Berbohong/ dusta
Singgih D. Gunarsa (2004:23) menyatakan beberapa bentuk kenakalan anak antara lain:
a. Berbohong/ dusta
b.
Pergi tanpa izin/ kabur
c.
Mencuri (bentuk kenakalan melanggar hak milik).
F.
Upaya Menangani Anak yang Menjadi
Korban Disfungsi keluarga
1. Upaya Preventif .
a. Terhadap Peserta didik
Konselor
dapat sedini mungkin mengadakan pengisian cumulative record, sehingga secara
mandiri peserta didik dapat mengenali keadaan keluarganya. Keadaan kedua orang
tua, saudara kandung, anggota keluarga lain yang tinggal satu rumah dengannya.
Pengenalan identitas diri dan keluarga sediri secara mandiri setidaknya sebagai
upaya agar anak mampu mengetahui keadaan keluarganya, posisi diri sendiri dalam
keluarga, potensi dan konsep diri yang dimilikinya.
b. Terhadap Orang tua.
Konselor dapat menyelenggarakan pengisian angket orang tua. Di dalamnya akan terlihat sejauh mana orang tua memahami keadaan anaknya. Upaya apa saja yang dilakukan orang tua dalam rangka membimbing anak belajar di rumah. Apa saja harapan orang tua terhadap proses perkembangan kepribadian anak khususnya secara psikis (kognisi dan afeksi). Dari sini dapat diketahui sejak dini seberapa kondusif lingkungan keluarga dalam mendukung prestasi anak.
2. Upaya Kuratif
Terhadap
Peserta didik dan Orang tua Konselor dapat menyelenggarakan bimbingan/
konseling individual. Anak bermasalah (keluarga) cenderung introvert ketika
diupayakan dengan pendekatan bimbingan kelompok. Perasaannya sangat sensitif
dengan lingkungan sekitar, termasuk terhadap teman dan guru di sekolah.
Adapun konseling individual ini juga ditujukan kepada orang tua/ anggota keluarga lain yang sekiranya tinggal satu rumah dengan anak yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun konseling individual ini juga ditujukan kepada orang tua/ anggota keluarga lain yang sekiranya tinggal satu rumah dengan anak yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keluarga yang sehat adalah keluarga di mana hubungan antar anggota
keluarganya berfungsi sepenuhnya, dalam UU No. 10 tahun 1992 dikemukakan
delapan fungsi keluarga yaitu: keagamaan, budaya, cinta kasih, perlindungan
atau proteksi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga, ekonomi,
serta fungsi pembinaan dan penggunaan lingkungan. Fungsi keluarga yang tidak
berjalan menurut semestinya (disfungsi keluarga) dapat menimbulkan permasalahan
dalam keluarga. Disfungsi keluarga dapat dikategorikan sebagai disfungsi keluarga
biasa, disfungsi perkembangan keluarga, disfungsi antar anggota keluarga,
disfungsi hubungan orang tua dan anak, disfungsi sesama saudara/anak, dan
disfungsi keluarga sebagai anggota kelompok.
B. SARAN
Anak merupakan anugerah yang berhak
mendapat bimbingan melalui pendidikan yang diberikan kedua orang tua. Sudah
sewajarnya jika kedua orang tua mengupayakan semaksimal mungkin terbentuknya
kepribadian anak yang sehat, melalui sikap dan perilaku sehari-hari yang dapat
dijadikan contoh sehingga anak tidak kehilangan jati dirinya Seperti apapun
permasalahan yang terjadi antara kedua orang tua, ketika terjadi pertengkaran
hendaknya tidak dengan sengaja di hadapan anak secara langsung. Hal ini akan
membuat anak merasa kehilangan rasa nyaman dan dilindungi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://hestungkara.blogspot.com/2011/07/keluarga-disfungsi-dan-dampaknya.html
( Diakses pada 23 september 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar