Rabu, 24 Oktober 2018

MAKALAH DISFUNGSI DAN DISORIENTASI KELUARGA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Keluarga merupakan tempat yang penting bagi perkembangan anak secara fisik, emosi, spiritual dan sosial. Karena keluarga merupakan sumber bagi kasih sayang perlindungan dan identitas bagi anggotanya. Keluarga menjalankan fungsi yang penting bagi keberlangsungan masyarakat dari generasi ke generasi. Dari kajian lintas budaya ditemukan 2 fingsi utama keluarga yakni internal, memberikan perlindungan psokososial bagi para anggotanya-dan ekternal, mentransmisikan nila-nilai budaya pada generasi selanjutnya (Minuchin, 1974).

Kajian tentang keberfungsian keluarga merupakan salah satu topik yang memperoleh perhatian dari para peneliti dan terapis. Secara umum, keberfungsian keluarga merujuk pada kualitas kehidupan keluarga, baik pada level sistem maupun subsistem, dan keberkenaan dengan kesejahteraan, kompetensi, kekuatan dan kelemahan keluarga (Shek, 2002).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian disfungsi dan disorientasi keluarga?
2.      Apa saja macam – macam disfungsi keluarga?
3.      Apa saja factor disfungsi keluarga?
4.      Apa saja masalah disorientasi keluarga?
5.      Apa dampak dari disfungsi dan disorienasi keluarga?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian disfungsi dan disorientasi keluarga
2.      Mengetahui  fungsi dalam keluarga
3.      Memahami bagaimana kedisfungsian keluarga
4.      Memahami apa saja disorientasi pada keluarga
5.      Mengetahui dampak disfungsi dan disorientasi bagi keluarga

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian fungsi dan disfungsi keluarga
Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga merupakan sistem karena di dalamnya setiap anggota keluarga saling berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain untuk suatu keutuhan. Sebagai sebuah sistem keluarga memiliki ciri-ciri saling ketergantungan (interdependence), keutuhan (wholeness), tata cara dan peraturan diri (patterns and self regulation), serta keterbukaan (openness) (Addler & Rodman,1991).
Fungsi keluarga  yaitu sistem dimana setiap anggota keluarga mampu menjalankan tugas dan kedudukannya di dalam keluarga. Sedangkan  Disfungsi keluarga dapat diartikan sebagai sebuah sistem sosial terkecil dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya tidak atau telah gagal manjalankan fungsi-fungsi secara normal sebagaimana mestinya.  Hubungan yang terjalin di dalamnya tidak berjalan dengan harmonis, seperti fungsi masing-masing anggota keluarga tidak jelas atau ikatan emosi antar anggota keluarga kurang terjalin dengan baik (Siswanto, 2007). Sebagai sebuah sistem, keluarga dapat terpecah apabila salah satu atau lebih anggota keluarga tidak menjalankan tugas dan fungsinya dalam keluarga hingga menyebabkan terjadinya keluarga disfungsi.

B.     Fungsi keluarga
1.      Agama
Keluarga  menanamkan  dan  menumbuhkan  serta  mengembangkan nilai-nilai  agama,  sehingga  remaja  menjadi  manusia yang berakhlak  baik  dan  bertaqwa sesuai dengan agama yang dianut.

2.      Sosial Budaya
Keluarga adalah   wahana  pertama  dan utama  dalam  pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya yang selama ini menjadi  panutan  dalam  tata  kehidupan dan diajarkan  melalui  contoh  perilaku  orangtuanya melalui interaksi antar keduanya.
3.      Cinta kasih / fungsi afeksi
Dengan cinta dan kasih sayang suasana rumah akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi  anak  dan  seluruh  penghuninya.  Sehingga  rumah menjadi  tempat  tinggal  dan  berkumpulnya  seluruh kegembiraan,  kedamaian  dan  kesopanan.

4.      Fungsi perlindungan
Keluarga  sebagai  unit  terkecil  dari sistem  sosial  adalah  tempat  bernaung  atau  berlindung bagi seluruh anggotanya.

5.      Reproduksi
Merupakan tempat mengembangkan fungsi reproduksi atau melanjutkan keturunan secara  universal  (menyeluruh)  diantaranya  seksualitas yang sehat dan berkualitas, pendidikan seksualitas bagi anak  dan  yang  lainnya.

6.      Sosialisasi pendidikan
Fungsi  pendidikan dimana  hal  ini  terkait  dengan  pendidikan  anak  secara khusus  dan  pembinaan  anggota  keluarga  pada umumnya.

7.      Ekonomi
Keluarga  sebagai  tempat membina  dan menanamkan  nilai-nilai  keuangan  keluarga  dan perencanaan  keuangan  keluarga  sehingga  terwujud keluarga  sejahtera.

8.      Lingkungan
Berhubungan dengan penempatan  diri  untuk keluarga  sejahtera  dalam lingkungan hidup  yang  dinamis secara  serasi,  selaras  dan  seimbang.




C.    Faktor Penyebab Disfungsi keluarga

1.      Kurangnya Persiapan antara Suami dan Istri Ketika Hendak Membina Rumah Tangga. Adanya pernikahan yang didorong oleh emosi hanya akan menimbulkan adanya disfungsi keluarga. Hal ini dapat terlihat dari suami/istri yang tidak dapat menerima kekurangan yang ada. Ketika nanti terjadi suatu kesalahpahaman, emosi masing-masing terlalu mudah meningkat hingga berujung pada perdebatan mempertahankan ego masing-masing. Perdebatan yang terlalu sering terjadi ini bahkan menyebabkan pertengkaran. Apabila pertengkaran yang sering terjadi ini pada suami dan istri yang belum mempunyai anak, tidak akan menjadi masalah yang berakibat pada orang lain. Namun, akan berdampak fatal apabila pertengkaran yang sering terjadi ini di hadapan anak secara langsung.

2.      Salah Satu atau Kedua Orang tua Terlalu Sibuk. Target-target untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang membuat seseorang lalai akan kewajiban lain yang seharusnya dilaksanakan. Apabila salah satu diantara ayah/ibu yang terlalu divorsir menggunakan waktunya untuk bekerja, maka anak akan sangat kurang mendapatkan waktu senggang untuk berkumpul dengan kedua orang tua. Bahkan apabila kedua orang tua mampu untuk menyediakan pembantu rumah tangga, tidak menutup kemungkinan bagi anak untuk justru lebih dekat dengan pembantu rumah tangganya.

3.      Komunikasi yang Tidak Efektif .  Komunikasi di sini tidak semata-mata percakapan dengan bahasa biasa antara anggota keluarga. Apabila kedua orang tua di dalam rumah terlalu sering bertengkar di hadapan anak secara langsung, anak akan menumpuk rasa marah karena merasa tidak nyaman dengan suara-suara yang keras itu. Anak akan beranggapan bahwa dalam kehidupan sehari-hari berbicara dengan suara keras adalah hal biasa. Bahkan mungkin termasuk kata-kata yang sering digunakan merupakan kata-kata yang kasar dan terkesan tidak sopan bagi masyarakat pada umumnya. Nantinya ketika rasa marah ini memuncak, anak akan berusaha mencari berbagai cara yang dianggapnya dapat melampiaskan amarahnya. Anak akan berada pada posisi tidak mampu lagi membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan salah. Nilai-nilai hidup bermasyarakat yang seharusnya dimiliki pun perlahan luntur karena tuntutan ego nya untuk melampiaskan amarah.

4.      Ketidakmampuan Kedua Orang tua dalam Menyatukan Dua Budaya yang Berbeda.
Kedua orang tua yang berasal dari budaya berbeda apabila tidak terbiasa mampu menyesuaikan diri dan saling mengerti akan sering terjadi kesalahpahaman ketika proses komunikasi berlangsung. Salah paham ini mengarah pada perdebatan samapi pada pertengkaran. Masing-masing akan merasa bahwa dirinya sudah benar, tidak terima akan kritik dan masukan yang diberikan. Sekalipun masukan itu bermaksud baik, namun bila yang ada hanya kesalahpahaman maka semua itu hanya akan menjadi penyebab pertengkaran kedua orang tua.

D.    Macam – macam disfungsi keluarga

1.      Disfungsi Keluarga Biasa
Dalam kategori ini setiap gangguan keluarga yang dapat merupakan komplikasi atau variasi dari perkembangan keluarga yang biasa.
·         Keluarga terputus karena terjadi perceraian antara kedua orang tua.
·         Keluarga tunggal sebagai akibat dari perceraian atau perpisahan suami dan istri, masing-masing membentuk keluarga sendiri-sendiri (tidak kawin lagi), sebagian anak ada yang ikut ayah dan sebagian lain ikut ibu.
Catatan: ada juga single parent family, yaitu ayah dan ibu yang tidak kawin, namun mempunyai anak angkat (adopsi) atau anak yang diperolehnya bukan dari perkawinan.

·         Keluarga baru, satu bentuk keluarga di mana masing-masing suami/istri kawin kembali. Permasalahan dapat timbul karena hubungan dengan keluarga yang lama, sebelum terjadi perceraian. Dalam bentuk keluarga ini diperlukan kembali penyesuaian diri dari masing-masing pihak, suami/istri atau ayah/ibu dan anak-anaknya.
·         Keluarga tidak stabil yang berkelanjutan. Ketidakstabilan yang terjadi karena perpindahan, perpisahan, atau perceraian yang berulang kali.

2.      Disfungsi Perkembangan Keluarga
Dilihat dari sudut perkembangan, maka berbagai gangguan atau disfungsi yang dapat terjadi pada keluarga adalah:
a.       Disfungsi keluarga primer. Terjadi disfungsi anggota pasangan suami istri yang disebabkan oleh:
·         Ketidakmampuan untuk membentuk hubungan yang rukun, cocok dan harmonis.
·         Kegagalan dalam mengadakan perjanjian dan tanggung jawab perkawinan.
·         Menunjukkan suatu perkawinan yang neurotik (gangguan kejiwaan) karena ada harapan - harapan yang menimbulkan konflik.
·         Kesulitan untuk melepaskan diri dari keluarga asal.

b.       Disfungsi keluarga sehubungan dengan kelahiran anak, ditandai dengan:
·         Kesukaran karena perubahan peranan sebagai ayah atausebagai ibu.
·         Harapan neurotik yang dihubungkan dengan anak yang dilahirkan.

c.        Disfungsi keluarga sehubungan dengan pengasuhan anak yang ditandai dengan:
·         Kegagalan untuk menciptakan suasana psikologis yang sehat untuk keluarga yang semakin besar.
·         Kesukaran dalam mengorganisasi keluarga sebagai suatu kelompok.
·         Kesukaran dalam menghadapi beberapa anak dengan usia yang berbeda-beda.
·         Kesukaran dalam menghadapi permasalahan kebersamaan dan perpisahan dalam upaya mengatasi segi tiga antara ayah, ibu dan anak.

d.      Disfungsi maturitas (kematangan) keluarga, di mana anak-anak sudah besar dan ingin berdiri sendiri. Orang tua mungkin mempunyai kesulitan untuk melepaskan diri dari anak-anaknya yang sudah dewasa dan untuk menegakkan kembali keseimbangan kembali perkawinan mereka.
e.       Disfungsi keluarga karena berkurangnya anggota keluarga. Hal ini terjadi manakala orang tua tidak siapuntuk berpisah dengan salah satu anggota keluarganya. Keluarga dapat mengalami kesukaran penyesuaian diri kembali setelah berpisah dengan salah seorang anggota keluarganya itu.

3.      Disfungsi Antar Anggota Keluarga
Keluarga sebagai suatu subsistem (ayah, ibu dan anak-anak) dapat pula mengalami berbagai gangguan di antara anggota keluarga. Termasuk dalam kategori ini adalah gangguan hubungan suami istri (orang tua), antara orang tua dan anak-anak, serta antara sesama anak. isfungsi subsistem suami istri terjadi karena perkawinan. Sebagai individu, suami/istri dapat berfungsi dengan baik, namun dalam bentuk perkawinan malah terbalik. Berdasarkan sifat hubungan suami istri, maka berbagai disfungsi dapat disebutklan sebagai berikut:

a.       Disfungsi perkawinan di mana suami istri merupakan pasangan yang saling melengkapi. Kombinasi pasangan tersebut ialah:

b.      Disfungsi perkawinan penuh konflik di mana suami istri merupakan kombinasi dua orang yang kedua-duanya mempunyai kecendrungan untuk menguasai dan mengendalikan.

c.       Disfungsi perkawinan di mana kedua suami istri saling menggantungkan diri, merasa tidak berdaya dan secara emosional imatur (tidak dewasa).

d.      Disfungsi perkawinan di mana hubungan suami istri menjadi berkurang dan hubungan menjadi dingin. Perkawinan dipertahankan semata-mata karena alsan agama dan sosial.

e.       Disfungsi perkawinan di mana terajadi perbedaan tanaj antara suami istri. Terdapat perbedaan besar dalm kepribadian, cara hidup, sistem nilai, usia, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. 


4.      Disfungsi Hubungan Orang tua-Anak
Dalam hal ini permasalahan keluarga timbul karena terjadi gangguan interaksi (hubungan) antara orang tua dan anak, yang dapat berupa:
·         Disfungsi keluarga terjadi sehubungan dengan kondisi psikopatologis (sakit secara psikologis) pada ke dua orang tua.
·         Disfungsi keluarga terjadi karena adannya kondisi psikopatologis pada anak.
·         Disfungsi keluarga terjadi sehubungan dengan kondisi yang simbolik dan bersamaan pada psikopatologi orang tua dan anak.
·         Disfungsi keluarga terjadi sehubungan dengan adanya konflik segitiga antara ayah, ibu dan anak.

5.      Disfungsi Sesama Saudara/Anak
Terjadi permasalahan dalam keluarga karena adanya persaingan atau perselisihan antara satu anak dengan anak yang lain. Perselisihan antara anak-anak ini dapat melibatkan kedua orang tua ataupun keluarga lainnya.

6.      Disfungsi Keluarga sebagai Kelompok Sosial
Berbagai permasalahan dapat timbul sehubungan dengan organisasi keluarga itu sendiri, integrasi antar anggota, komunikasi, pembagian peran, penyelesaian tugas, hubungan emosional, dan lain sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah sebagai berikut:
·         Keluarga yang dipimpin oleh kedua orang tua yang imatur (tidak dewasa).
·         Keluarga yang dipimpin oleh kedua orang tua yang perfeksionis (harus serba sempurna).
·         Keluarga di mana antara sesama anggota keluarga tidak terdapat kepuasan satu dengan lainnya.
·         Keluarga di mana terjadi kekacauan peran dan fungsi antar anggota keluarga.
·         Keluarga di mana terdapat keseimbangan yang patologis (sakit).


E.     Dampak-dampak disfungsi keluarga terhadap Pembentukan Kepribadian Anak

1.      Adanya Kebimbangan pada Anak dalam Menentukan Jati Diri.
Self concept yang sudah terbentuk pada diri anak kelak akan terwujud menjadi sebuah kepribadian dan jati diri bagi anak. Namun apabila kedua orang tuanya tidak mampu menjadi sebuah teladan dan pegangan bagi anak, maka pada diri anak hanya akan terjadi kebimbangan harus mengikuti yang mana. Demikian hal nya ketika fungsi-fungsi dalam keluarga itu tidak terasa manfaatnya bagi anak, maka anak akan kehilangan pedoman dan arah tujuan yang seharusnya merupakan sesuatu yang utuh, yang menjadi tujuan bersama dalam suatu keluarga

2.      Depresi
Ayub Sani Ibrahim (2007:12) menyatakan menurut ilmu kesehatan jiwa (psikiatri), depresi merupakan penyakit yang bagian-bagiannya terdiri dari sindroma klinik. Sindroma klinik berkaitan dengan gangguan alam perasaan, alam pikir dan tingkah laku motoriknya yang menurun (berkurang).  Pada keadaan depresi, anak akan merasa bahwa dirinya tidak hanya sedih, perasaannya menjadi tidak senang dan murung. Merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.  Depresi pada anak akan muncul dalam berbagai sikap dan perilaku. Antara lain:
·         Terlalu mudah menangis
·          Terlalu mudah tersinggung
·          Sulit tidur
·          Jam tidur berlebih
·          Sering membicarakan kesedihannya

3.      Terlalu menutup diri, hingga sulit bergaul dengan teman dan Kesulitan dalam Menyesuaikan Diri
Akibat dari sikap yang terlalu tertutup dan sangat sensitif, maka anak akan merasa nyaman dengan melakukan segala sesuatunya sendiri. Apabila ada penolakan dalam dirinya, anak akan cenderung memilih untuk diam dan tidak berdaya untuk menyampaikan maksudnya kepada orang lain. Baik dengan alasan merasa malu atau pun takut salah. Rasa takut salah akan muncul jika sejak kecil anak sudah terbiasa dipersalahkan orang tuanya. Segala sesuatu yang dilakukan selalu dianggap dan dikatakan salah. Anak akan merasa kesulitan menerima keberadaan orang lain di lingkungan baru. Sesuatu yang baru jika dirasa tidak sesuai dengan kemauannya maka anak akan lebih memilih untuk melakukan segala sesuatunya sendirian tanpa mempedulikan keberadaan orang lain di sekitarnya.

4.      Munculnya Kenakalan pada Anak.
Kenakalan merupakan segala sesuatu yang apabila dilakukan oleh anak dapat menimbulkan keresahan pada orang tua, cenderung merupakan perilaku yang mengganggu kenyamanan orang lain dan bertentangan dengan nilai-nilai baik dan benar.
Singgih D. Gunarsa (2004:23) menyatakan beberapa bentuk kenakalan anak antara lain:
a. Berbohong/ dusta
b. Pergi tanpa izin/ kabur
c. Mencuri (bentuk kenakalan melanggar hak milik).


F.     Upaya Menangani Anak yang Menjadi Korban Disfungsi keluarga

1.      Upaya Preventif .
a.        Terhadap Peserta didik
Konselor dapat sedini mungkin mengadakan pengisian cumulative record, sehingga secara mandiri peserta didik dapat mengenali keadaan keluarganya. Keadaan kedua orang tua, saudara kandung, anggota keluarga lain yang tinggal satu rumah dengannya. Pengenalan identitas diri dan keluarga sediri secara mandiri setidaknya sebagai upaya agar anak mampu mengetahui keadaan keluarganya, posisi diri sendiri dalam keluarga, potensi dan konsep diri yang dimilikinya.



b. Terhadap Orang tua.

Konselor dapat menyelenggarakan pengisian angket orang tua. Di dalamnya akan terlihat sejauh mana orang tua memahami keadaan anaknya. Upaya apa saja yang dilakukan orang tua dalam rangka membimbing anak belajar di rumah. Apa saja harapan orang tua terhadap proses perkembangan kepribadian anak khususnya secara psikis (kognisi dan afeksi). Dari sini dapat diketahui sejak dini seberapa kondusif lingkungan keluarga dalam mendukung prestasi anak.

2.      Upaya Kuratif
Terhadap Peserta didik dan Orang tua Konselor dapat menyelenggarakan bimbingan/ konseling individual. Anak bermasalah (keluarga) cenderung introvert ketika diupayakan dengan pendekatan bimbingan kelompok. Perasaannya sangat sensitif dengan lingkungan sekitar, termasuk terhadap teman dan guru di sekolah.
Adapun konseling individual ini juga ditujukan kepada orang tua/ anggota keluarga lain yang sekiranya tinggal satu rumah dengan anak yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Keluarga yang sehat adalah keluarga di mana hubungan antar anggota keluarganya berfungsi sepenuhnya, dalam UU No. 10 tahun 1992 dikemukakan delapan fungsi keluarga yaitu: keagamaan, budaya, cinta kasih, perlindungan atau proteksi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga, ekonomi, serta fungsi pembinaan dan penggunaan lingkungan. Fungsi keluarga yang tidak berjalan menurut semestinya (disfungsi keluarga) dapat menimbulkan permasalahan dalam keluarga. Disfungsi keluarga dapat dikategorikan sebagai disfungsi keluarga biasa, disfungsi perkembangan keluarga, disfungsi antar anggota keluarga, disfungsi hubungan orang tua dan anak, disfungsi sesama saudara/anak, dan disfungsi keluarga sebagai anggota kelompok.

B.     SARAN
Anak merupakan anugerah yang berhak mendapat bimbingan melalui pendidikan yang diberikan kedua orang tua. Sudah sewajarnya jika kedua orang tua mengupayakan semaksimal mungkin terbentuknya kepribadian anak yang sehat, melalui sikap dan perilaku sehari-hari yang dapat dijadikan contoh sehingga anak tidak kehilangan jati dirinya Seperti apapun permasalahan yang terjadi antara kedua orang tua, ketika terjadi pertengkaran hendaknya tidak dengan sengaja di hadapan anak secara langsung. Hal ini akan membuat anak merasa kehilangan rasa nyaman dan dilindungi.











DAFTAR PUSTAKA

http://hestungkara.blogspot.com/2011/07/keluarga-disfungsi-dan-dampaknya.html ( Diakses pada 23 september 2018)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar